Kullu Nafsin Dzaa-iqotul Maut

Standard

Seminggu yang lalu seorang tetangga depan rumahku meninggal. Terus terang aku juga belum pernah tau bapaknya yang mana, karena tidak pernah ketemu pas keluar rumah. Aku dan suami lumayan kaget waktu sore itu pulang ke rumah. Lhoh, kok banyak orang duduk di tikar berjajar di tepi jalan, dan orang-orang pada bergerumbul..?? Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Ternyata, ada prosesi pemberangkatan jenazah, seorang bapak meninggal beberapa jam yang lalu. Padahal waktu kami keluar rumah belum ada berita apa-apa. Jadilah kami dengan sungkan-sungkan melewati para tamu yang berjajar di kanan kiri jalan, menuju rumah kami yang hanya berjarak 1 rumah dari rumah duka. Sehabis sholat asar, segeralah kami takziyah. Prosesi acara lumayan panjang untuk ukuran pengurusan jenazah, yakni tilawah, sari tilawah, sambutan perwakilan rumah, lurah, khotib yang melantunkan taujih dan doa-doa, dan lain-lain (yang sebenarnya tidak perlu dalam ajaran agama Islam). Aku mengikuti saja sambil berfikir sedari hadir, ini kok panjang amat ya ceremony-nya, seperti perhelatan agenda apa. Kalau baca buku Ahkamul Janaiz, ternyata buanyak sekali bid’ah-bid’ah yang menjadi kebiasaan masyarakat kita dalam penyelenggaraan jenazah.

Berita kematian selalu membuatku bertafakur, tentang kematian yang sudah menjadi jatah tiap makhluk-NYA. Fitrahnya kematian, pasti mendatangi kehidupan. Kepada siapapun, kapanpun, dalam bentuk apapun, dengan sebab apapun. Beberapa kali dulu saat aku mudik dan dijemput Bapak dari terminal, sambil naik motor di jalan Bapak cerita tentang siapa saja tetangga kami di desa yang meninggal, karena sakit kah, kecelakaan, atau lain-lain. Kemudian Bapak selalu berkata menasehati, “Yo ngono kuwi Nduk, kata Allah Kullu nafsin dzaa-iqotul maut, fa idza jaa-a ajaluhum laa yastaqdimuuna sa’atan walaa yasta’khirun…tidak bisa minta dimajukan atau diundur. Kadang yang tua yang duluan, kadang malah anaknya yang duluan…” Bapak sampai hafal dengan ayat tersebut, mungkin karena sering mengambil hikmah dari kematian. Bapakku juga salah satu orang yang tidak pernah absen mengantar jenazah hingga ke kubur, dengan motivasi sebuah dalil: pahala sebesar 2 qiroth, dua gunung emas!

Sembari berdiri mengikuti pemberangkatan jenazah, aku terus merenung… tentang diri sendiri, tentang orang-orang yang kucintai, tentang bekal, amal jariyah, tentang bagaimana nanti kematian menghampiri, tentang bagaimana kelanjutan kehidupan di akhirat nanti. Karena kematian justru bukan akhir, tapi awal, pembuka menuju kehidupan selanjutnya yang teramat panjang tak berkesudahan. Kalau dipikir-pikir memang menimbulkan rasa takut, tapi justru rasa takut itulah yang perlu. Kata Ustadz, bedanya khouf dengan rasa takut terhadap hal-hal di dunia, misalnya kalau kita takut pada singa (atau dosen pembimbing skripsi mungkin??) kita pasti cenderung menjauh/menghindarinya. Tapi khouf adalah rasa takut yang justru mendorong seorang hamba untuk mendekat pada Robb-nya. Yang memicu kita untuk terus memperbaiki diri, memohon rahmat dan pertolongan Allah untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Khouf yang memicu kita untuk terus roja’ (berharap) pada Allah, yang hanya dengan rahmat-NYA kita tertolong masuk surga. Tidak masuk dalam hitungan rasa khouf seperti yang ditunjukkan dalam film “Mirror”, seorang gadis yang tau bahwa dirinya sebentar lagi akan mati, dia berusaha menghindarinya dengan beragam cara. Berdiam diri di rumah, berusaha agar tidak terlelap dengan mengunyah cabe sebanyak mungkin, sampai akhirnya dia stres sendiri dan kabur menghindari ketakutan akan kematian, endingnya ya dia tetap meninggal. Tentu saja cerita ini impossible dan tidak bermutu (semoga anak bangsa ini semakin cerdas lagi membuat film yang mencerdaskan kehidupan bangsa). Dan subhanallah wal hamdulillah, inilah salah satu hikmah Allah merahasiakan kapan ajal kita. Agar setiap kita tetap berfikir optimis mengerjakan segala amal di dunia. Saya dan suami pernah berdiskusi, seandainya setiap orang itu diberitau kapan ajalnya, misalnya dikirimi surat pemberitahuan oleh malaikat Izrail tentang hari-H ajalnya, kira-kira apa yang akan dilakukannya menjelang detik-detik terakhir? Hmm, mungkin para manusia akan segera mengebut amal kebaikan, menyempurnakan ibadah, seperti hadit nabi, “…sholatlah seolah-olah ini sholat terakhirmu…”. atau bisa jadi ada yang malah stres dan justru melampiaskan keinginan dan nafsu di saat-saat terakhir hidupnya dengan slogan “Ah, hidupku tinggal sebentar lagi di dunia, untuk apa susah payah bekerja, biarlah kubersenang-senang di detik-detik akhir…” seperti kata seorang teman dulu yang hendak pulang kampung, “Hari terakhir di kota ini, biar kuhabiskan waktu ngapa-ngapain yang enak…” #analogi saja. Begitulah fitrah manusia, selalu ada dua sisi yang berbeda.

Ada satu hadits yang mengajarkan kita tentang bagaimana visualisasi yang bisa kita lakukan untuk menginternalisasi roja’ dan khouf ini: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” How balance it is.

Masih di tempat takziyah. Sembari bertafakur kuperhatikan sekeliling, orang-orang yang hadir. Beragam aura/ekspresi wajah mereka. Ada yang sedih, biasa saja, bahkan sumringah dan bisa mengobrol sambil tertawa-tawa. Adakah di dalam hati mereka juga terselip pikiran tentang kematian yang seharusnya bisa mengingatkan diri. Adakah mbak-mbak yang belum berjilbab itu kemudian mengambil pelajaran tentang membenahi diri, adakah anak-anak muda itu mengambil pelajaran bahwa kematian tak pandang usia. Entahlah, aku sendiri berkutat dengan pikiranku. Seorang sepupuku ada yang berprofesi sebagai perawat, sudah terbiasa menyaksikan orang meninggal (sakaratul maut) dan akrab dengan kamar mayat. Dia pernah bercerita, orang sakaratul maut itu macam-macam. Ada yang dengan tenang, ada pula yang sebaliknya. Na’udzubillah. Tergantung bagaimana kondisi jiwa seseorang, dekatkah dengan Robb-nya? Atau sebaliknya? Aku sempat mikir, orang yang berprofesi dekat dengan situasi kematian begitu harusnya bisa banyak menjadi pengingat dirinya, untuk banyak-banyak mengingat Sang Penggenggam Nyawa. Tapi ya tergantung orangnya sich mau mengambil pelajaran atau tidak. Seorang murobbiku yang berkecimpung dengan dunia medis juga pernah bercerita hal-hal tentang sakaratul maut. Salah satunya, ada seorang bapak penjual tape yang terkenal baik sekali, selalu jujur dan murah hati, adil dalam timbangan, dsb. Saking cintanya ia dengan pekerjaannya, ketika meninggalpun kata-kata terakhir yang ia ucap adalah: tape…tape… Naudzubillah. Mungkin beliau memang orang yang baik, pedagang yang adil dan jujur, tapi jika yang ia ingat dan cintai sepanjang aktivitasnya adalah pekerjaan, bukan Allah, ya itu pula yang sampai ia ingat dan ucapkan di akhir hayat. Wallahua’lam. Segala kebaikan, haruslah Allah yang menjadi alasan. Haruslah Allah yang selalu diingat dan menjadi motif perbuatan baik.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un.
Sederhana kalimat tarji’ ini. Namun betapa kuat maknanya mengingatkan: kita ini punya Allah, dan akan kembali pada Allah.

Akhirnya, menjadi kesempatan kita yang masih diberi nafas di dunia, untuk selalu belajar dari peristiwa sebagai tadzkiroh untuk selalu membenahi diri.

Allohummaghfirlahu, warhamhu, wa’afiihi wa’fu’anhu… semoga Allah memberi kenikmatan kubur untuk Bapak R.
Allohumma amitnaa ‘alasy syahadati fii sabiilik, fil khusnil khootimah… Ya Allah matikan kami kelak di atas syahadat, di jalanMU, dalam kematian yang khusnul khotimah. Amiin…

10 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s