AYO BERDAGANG!

Standard

Adalah bukunya Muhaimin Iqbal yang berjudul “Ayo Berdagang!” yang baru-baru ini saya selesai baca dan subhanallah, sangat menginspirasi. Mulanya abinya yang selalu langganan membaca http://geraidinar.com dan mengikuti tulisan-tulisan beliau, lantas minggu lalu abi memesan buku tersebut ke Depok langsung (di Jogja belum beredar). Eh ternyata saya ketularan suka. Waktu baca deretan daftar isinya saya sudah penasaran, karena judul sub bab-nya unik-unik. Memang kok, isinya tidak sepeti buku-buku motivasi yang cenderung mengawang-awang, ini lebih konkrit, realistik, optimistik, and no mistik pasti (Islamic based kok…).

Dari tulisan beliau saya mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga, bahkan tidak selalu harus dikaitkan dengan perdagangan, kawan. Cerita hikmah yang beliau tuliskan bisa kita analogikan ke dalam banyak hal. Namun utamanya memang saya tersengat semangat untuk bertekad: BERDAGANG! Sekaligus mengajak saya untuk bermind-set: ternyata berdagang itu KEREN lhoh! Beneran, karena sebelumnya saya tu termasuk orang yang menganggap berdagang itu ya biasa aja…ya pokoknya jualan, laba, untung rugi tidak pasti, dan sebagainya. Tapi saat mengikuti alur berpikir Pak M. Iqbal ini, saya jadi berfikir, subhanallah, betapa berdagang adalah pekerjaan yang ISTIMEWA. Tentu saja inspirasi utama dan pertama yang menyadarkan saya berasal dari agama kecintaan ini, ISLAM dan para generasi terbaiknya. Kata Rosulullah dalam sebuah hadits: “9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang”. Ini hadits sich sudah tidak asing, tapi entah kenapa baru ngena pas baca buku Pak M.Iqbal. ya begitulah manusia, kadang butuh diremidi, mengulang pelajaran, biar ngena dan paham. Di Alqur’an surat Al Baqoroh 275-276, Allah juga menerangkan bahwa lawan kata riba ada dua: jual beli dan shodaqoh. Generasi istimewa ISLAM pun banyak yang berdagang. Rosulullah, Muhammad bin Abdullah, saat masih kanak-kanak telah terbiasa terlibat berdagang dan dewasanya menjadi pedagang yang mahir (dan paling terpuji tentu saja!) hingga pernah menjelajahi 13 wilayah pasar di Jazirah Arab. Khodijah, adalah wanita kaya, beliau pengusaha sukses juga. Abu bakar, yang tidak terfikir/terbayang mendapatkan gaji dari jabatannya, maka keesokan hari setelah dilantik beliau tetap pergi ke pasar. Adalah Umar bin Khotob yang kemudian berinisiatif bahwa Kholifah butuh penghasilan untuk keluarganya, dan mengusulkan gaji untuk kholifah sehingga Abu Bakar tak perlu pergi ke pasar, tapi “ngantor” di masjid nabawi jika sewaktu-waktu umat membutuhkannya, beliau mudah ditemui. Kalau diperhatikan, Umar adalah sahabat yang paling keras wataknya, tapi sepeninggal Rosul, beliau justru orang yang banyak ijtihadnya dan menjadi acuan bagi umat hingga sekarang, seperti gaji untuk kholifah tadi dan usulnya tentang pembukuan Al Qur’an. Oke enough about it. Next, Abdurrahman bin Auf, contoh fenomenal pengusaha sukses di jaman Rosul. Saat hijrah ke Madinah, seorang sahabat Anshor menawarinya hal yang mudah dan menggiurkan: akan kubagi separuh hartaku untukmu, dan kuceraikan salah satu istriku untuk kau nikahi. Enak kan. Tapi apa kata Abdurrahman bin Auf: Tak usah, tunjukkan saja padaku dimana pasar. Jawaban yang elegan saya rasa. COOL! Tanpa modal di hari itu beliau pergi ke pasar, namun 32 tahun kemudian ketika wafat, beliau meninggalkan warisan untuk masing-masing istri sebanyak 80.000 dinar. Itu belum seberapa, karena ternyata istrinya ada empattt, dan jatah untuk seorang istri yang suaminya meninggal dan mempunyai anak adalah 1/8 dari harta yang ditinggalkan, jadi jika istrinya 4 maka masing-masing istri “cuma” kebagian 1/32 bagian. Intinya kalau dihitung-hitung, total warisan beliau dalam rupiah adalah sekitar 6,2 Trilyun (kurs dinar sekarang). Subhanallah!

Ada lagi inspirasi bagus yang menyadarkan saya tentang pentingnya berdagang dan urgennya penguasaan pasar. Dahulu Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah dibawa oleh pedagang Arab (bukan abad ke-14 dibawa pedagang Gujarat), hingga kemudian masyarakat kita mengenal Islam dan berkembang di nusantara. Beberapa waktu kemudian, masuknya penjajah pun atas motif ekonomi, ketika Portugis dan Belanda mencari rempah-rempah, ternyata menjajah 350 tahun (sejak dulu tu saya heran dengan angka 350 tahun ini, hebat sekali penjajahan Belanda 3,5 abad, tujuh turunan mewarisi ‘jiwa menjajah’ nenek moyangnya, benar-benar kejahatan yang terwariskan). Nah, organisasi kemerdekaan yang dirintis Haji Samanhudi pun bernuansa dagang: Sarekat Dagang Islam. Dulu waktu sekolah nama ini tidak asing di pelajaran sejarah, tapi kok ya saya tidak pernah berfikir ya kenapa nama organisasinya ada unsur kata ‘dagang’, apa hubungannya dagang sama kemerdekaan. Ternyata begitulah, penguasaan pasar dan perdagangan dengan kata lain penguasaan ekonomi adalah unsur penting dalam keleluasaan dan kemakmuran umat.

Yang istimewa dari penulis buku ini, beliau tidak hanya berdagang sendiri, tapi juga mengupayakan sebuah pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat dan pengembangan-pengembangan lain dalam rangka mewujudkan kemakmuran. Ah, terlalu banyak jika diceritakan. Yang jelas, saya berkesimpulan: begini nich yang namanya orang sukses. Tidak hanya dirinya sendiri yang kaya dan makmur, tapi dia juga memberdayakan banyak orang lain, dan mengajarkan kebenaran yang syar’i. Sebuah poin plus yang mulia sekali saya rasa. This is the other way of DAKWAH. Right?

Begitulah, jadinya saya terinspirasi sekali untuk berdagang dan berkontribusi untuk kemashlahatan umat. Meskipun aslinya belum tau mau jualan apa, haha. Dalam 2 bulan ini, aku dan abinya raju memang sedang banyak berdiskusi dan bermusyawarah tentang wirausaha alias bisnis alias dagang alias jualan, dodolan. Telah ada beberapa opsi sebenarnya, dan rencana-rencana kecil yang kami desain. Kukatakan kecil, karena mungkin terkesan ini hal sepele, jualan kecil-kecilan. But, it doesn’t matter. Inilah yang namanya berlatih. Start from zero, of course. Tidak malu mencoba, salah satu pelajaran dari Pak M. Iqbal. Mmm, by the way, sebenarnya saya ini orang yang cukup ‘fanatik’ dengan keilmuan saya. Dalam arti, saya masih tetap bercita-cita mengamalkan bidang ilmu yang saya punya. Lulusan Bimbingan dan Konseling, paling tidak saya nantinya tetap bekerja di ranah bidang ini, selebihnya nyambi berdagang, gituuu. Meskipun belum sekarang, tapi aku yakin, bismillah bisa! *berharap nyantol di salah satu beasiswa, hee..amiin. Alhamdulillah waktu kuliah, 4 tahun aku sangat terbantu oleh beasiswa. Adikku yang sekarang kuliah di ITS juga begitu. Urusan akademik full dari beasiswa, donasi bapak ibuk hanya sesekali dalam urusan kebutuhan sehari-hari. Alhamdulillah, cukup meringankan orangtua. Nah, ini termasuk prinsip akademik nich, kalo bisa, sekolah dan kuliah selalu tersokong dengan beasiswa. Itung-itung dana pemerintah itu lho banyak, anggaran pendidikan yang 20 % APBN saja belum optimal dicairkan untuk kemajuan pendidikan (nah, trus dipake kemana coba?), makanya kita manfaatkan saja dengan ‘mengambil’ jatah beasiswa, hee. Kok jadi cerita akademik ya.

Ya sudah ya, selamat berkarya dengan masing-masing daya kita. Setidaknya, minimal dalam setiap mimpi-mimpi kita, terselip mimpi untuk orang lain, untuk kebaikan umat. Seperti Hasan Al Banna ketika ditanya apa mimpi beliau… biasanya kita njawab cita-cita untuk diri sendiri ya: jadi insinyur, dosen, pengusaha, dll. Tapi Hasan Al Banna ternyata mendeskripsikan mimpinya untuk Mesir, bercita-cita untuk Mesir. And one day, it comes true… biidznillah.

09/03/2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s