S E L F T A L K

Standard

(verbatim)

Soul : Sampai kapan akan tetap saling mendiamkan?
Self : Entahlah aku butuh waktu…
Soul : Time will heal, tentu saja kalimat bijak itu ada benarnya. Tapi bukankah lebih baik ada yang memulai?
Self : Aku yang harus memulai? Masih sakit rasanya setiap kali teringat sikapnya.
Soul : Hei, jangan mengira hanya kamu yang tersakiti. Dia pun begitu. Jangan kira hanya kamu yang merasa benar, dia pun begitu. Dan jangan kira hanya kamu yang merasa dia salah, dia pun sebaliknya. Begitulah yang kutau darinya.
Self : Kau tau darinya?
Soul : Iya. Diapun begitu, ternyata masing-masing kalian menemukan kesalahan pada satu sama lain, dan menemukan alasan bahwa diri masing-masing lah yang benar. Mempertahankan kondisi seperti ini sama saja membiarkan menyakiti diri sendiri.
Self : Ah tidak juga. Meski tanpa dia, aku masih bisa bahagia sekarang, bersuka tertawa, punya teman dekat yang menyenangkan pula. Sudahlah, biarkan saja begini, entah sampai kapan, pasti ada akhirnya.
Soul : Hingga dunia berakhir? hahaha… becanda kok.
Menurutku itu meng-cover masalah namanya, bukan meng-counter.
Self : Anggap saja sama. Menutupi masalah kadang bisa jadi jalan penyelesaian.
Soul : Selesai atau pending?
Self : Entah bagaimana ini bermula. Yang kurasakan, aku semakin tak nyaman dengan sikapnya, sakiiiit rasanya. Lalu terbentang jarak yang terasa jauh diantara kami, meskipun saat dekat secara fisik. Selanjutnya diam menjadi pilihan.
Soul : Dan menjadi lebih tidak sehat lagi ketika kalian malah hanya saling menyindir. hemm?
Ya begitulah pertengkaran, masing-masing kita selalu merasa benar hingga ‘layak’ menyalahkan. Tapi menurutku, dalam setiap pertengkaran masing-masing kita tetap selalu punya andil kesalahan. Seberapapun kecilnya, seberapapun sepelenya, yang kita sering tidak menyadarinya.
Self : Kau seperti sudah berpengalaman dalam banyak pertengkaran? hahaha
Soul : Tentu saja aku juga pernah bertengkar. Kau tau aku dan Nuur? Meski kami sahabat baik, telah tinggal bersama sekian tahun, toh tak terhitung pula berapa kali kami saling marahan, hahaha. Kadang karena salahku dan egoku, kadang karena kesalahan dan ego dia. Kalau sudah saling sebal, mendiamkan memang sebuah pilihan yang sering diambil. Tapi seberapapun kami marahan atau bertengkar, seingatku kami tak pernah sampai saling mendiamkan lebih dari tiga hari. Meskipun seringkali aku yang lebih dulu memulai keakraban, membuka suara untuk saling bicara kembali. Dan… meskipun kadang saat itu masih ada sisa sebal di hatiku, aku tetap akan memulai membuka keakraban jika dia tak juga mendahului. Kau tau kenapa?
Self : Hmmm, kenapa?
Soul : Hahaha, sebenarnya terlatar belakangi oleh sebuah ‘kepercayaan’ku sejak kecil. Waktu SD aku mengetahui sebuah ajaran dalam Islam bahwa marahan sama orang itu maksimal batasnya 3 hari. Jika sampai kita mendiamkan saudara lebih dari tiga hari, nanti dikutuk malaikat. Nah, jadinya aku benar-benar ketakutan waktu itu kalau aku dikutuk malaikat. Jadi setiap kali marahan sama teman, aku cepat-cepat minta maaf kalau sudah tiga hari. Meskipun sebenarnya aku merasa akulah yang benar, tapi gakpapalah daripada kena kutuk malaikat, aku minta maaf duluan. hahaha… ternyata keyakinan itu terbawa sampai sekarang, toh selanjutnya aku faham, begitulah seharusnya sikap yang benar.
Self : Jadi menurutmu apa yang harus kulakukan?
Soul : Kalau kau tanya aku, akan kujawab seperti yang kukatakan padanya: jadilah orang yang mendahului.
Self : Bagaimana kalau sikapnya dingin? Responnya justru semakin membuatku tersakiti?
Soul : Justru itulah tantangannya. Seberapa tahan kau terhadap ujian mental itu menunjukkan seberapa kuat azzam-mu untuk berbaikan dengannya. Eh, sebentar. Tapi itu baru prasangkamu kan? Belum tentu juga dia akan bersikap begitu. Kenapa tidak kita pasang benteng positive thinking?
Self : Oke, kau mengatakan hal yang sama padanya kan, kenapa sampai sekarang dia tidak mendahului? Katakan padaku sekali lagi, kenapa harus aku yang memulai?
Soul : Tidak harus kamu, akupun berharap dia mendahului. Karena siapapun yang mendahului, insya Allah tidak ada celanya. Kecuali hanya karena gengsi kita enggan mendahului. Maksudku, karena merasa akulah yang benar, gak mau donk aku duluan yang ngalah.
Self : Hmmm, kalau begitu, bagaimana jika aku saja yang menjadi ‘pihak yang menunggu’?
Soul : Terserah, itu pilihan. Lalu jika masing-masing memilih begitu, I just worry that the terms “time will heal” really will be so long to be true. Aku sich hanya mencoba memberi saran, sekali lagi tak ada celanya mendahului, justru menurutku itu yang lebih baik. Sama halnya seperti kata Umar bin Khotob, siapa yang memulai salam duluan, dialah yang lebih mencintai Allah. Karena dia yang mendahului untuk mendoakan saudaranya, mulia bukan? Setidaknya kamu punya satu poin plus saat kamu duluan yang menyapa dia, minimal dengan salam. Isn’t that interesting?
Self : Ya, ya, cukup motivatif.
Soul : Dan memang motif kita berbuat seharusnya selalu bermotif syar’i, Self. Bukankah sikap yang syar’i seharusnya tidak mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari? Bukankah sikap yang syar’i seharusnya memulai tabayun untuk mengklarifikasi masalah, bukan malah mengembangbiakkan dzon-dzon tidak bagus yang berkesinambungan? Bukankan sikap yang syar’i seharusnya bersegera minta maaf dan mudah dalam memaafkan? dan jangan lupa selalu berdoa agar Allah mendekatkan hati kalian kembali. Aku dan Nuur, seperti apapun marahnya dan mendiamkan, kalau sudah baikan ya sudah, selesai. Kami bermain, tertawa, melakukan banyak hal menyenangkan dan bermakna lainnya, bersama-sama lagi. Bahkan saling mengakui kesalahan. Kejujuran yang melegakan. Bukan sindiran-sindiran yang justru membakar emosi. Toh jauh lebih buanyaaak sekali hal baik dan menyenangkan yang kudapati dari dia. Ingatan terhadap itu pula yang mereduksi perasaan sebal yang pernah menghinggapi hati kami. Tidakkah kalian begitu? Keakraban yang penuh makna dan canda yang dulu, relakah terlupa begitu saja?
Self : …….. (diam)
Soul : Kemarin kau bilang kau merindukannya, mengakui bahwa kau menyayanginya, bahkan pernah menangisi pertengkaran ini. Sebenarnya lebih baik kau mengatakan itu di depannya, daripada di depanku.

………….. persahabatan pasti diuji …………….

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al Hujurat: 10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s