RAGELEG, Kenangan Bersama Ayah

Standard

Indra kecil, kala itu adalah anak SD yang belum genap usianya 8 tahun. Indra kecil, gemar sekali membaca. Meskipun masih kecil, ia tak hanya suka buku cerita dan majalah, tapi juga koran.

Suatu hari, ayahnya memanggilnya. Ada buku baru katanya. Tapi, harus bantu ibu menyapu halaman dan bersih-bersih dulu nanti baru dikasih, judul bukunya RAGELEG. Wow, nama yang asing, mungkin seru sekali sampai ayahnya mensyaratkan bersih-bersih dulu. Padahal biasanya tanpa disyaratkan, Indra kecil mau juga membantu ibunya meskipun sedikit.

Bersemangatlah Indra kecil menyapu dan membereskan rumah, dengan harap-harap penasaran, buku macam apa yang dibawa ayahnya.

Yap! Selesai bersih-bersih, Indra kecil menghadap ayahnya. Bersemangat dengan senyum girang mengulurkan tangan, menerima buku baru. Dibacanya huruf besar-besar di bagian atas sampul buku: GELEGAR. Haaa…?!!! Ternyata GELEGAR! Ayahnya mengerjainya, sengaja membalik kata GELEGAR menjadi RAGELEG. Indra kecil manyun sebal, kalau buku GELEGAR ia sudah tak asing, buku kumpulan soal-soal. Tapi senang juga laaah, ada buku baru. Toh itu menjadi salah satu kenangan manis bersama ayahnya, karena tak lama kemudian, Allah mengambil ayahnya dari sisinya.

Indra kecil beranjak dewasa, masih tetap suka membaca. Sekarang ia ada disisiku, menemaniku menulis ini. Dulu saat kecil, ia menemukan keasyikannya membaca di atas pohon rambutan. Bertengger di dahan yang kuat, memegang buku, sambil sesekali makan buah rambutan (kalau pas lagi musim). Kalau tidak begitu, ia akan asik membaca sambil ngemil garam. hah? Iya, dia membaca sambil mencolek-colek garam buat camilan. Saat kutanya, “Kenapa makan garam?” katanya: “Karena gak ada camilan di rumah, aku juga gak pernah minta jajan.” Ya Allah… so swiiit kamu sayang… *terharu

Indra dewasa yang kukenal sekarang, masih saja gemar membaca. Dia pintar dan mengalahkanku salah satunya juga karena dia rajin membaca (berarti aku tidak begitu??!). Ibuku pun memperhatikan hobinya. ”Ini lho bukumu ketinggalan, dibawa. Mas Fachri lak suka baca to? Sampe koran bungkus makanan ae dibaca.” kata beliau suatu sore. “Ibuk kok ngerti?” tanyaku. “Iyo, tak perhatikan kok.” *ihhiiiirrr :P
Begitulah, bahkan secuil koran bungkus nasi kucing pun ditelisik bacaannya. Seolah eman ada deretan huruf yang terlewat dari tangkapan retinanya.

Indra kecil yang sekarang mendewasa, masih menyimpan rapi kenangan RAGELEG bersama ayahnya. Selain mewarisi watak dan kepintaran ayahnya, ia juga mewarisi alis dan dahi yang sama persis seperti ayahnya. He is my Indra… Fachri Ranu Indra Kukilo ;)

6 responses »

  1. ahaha, selaluuuu ketawaaa-ketiwii ketiwuuu deh ngebaca tulisan kamyuu..hihihi….
    ak lair taon ’87 sayy…hihihi.. (udah tuir benerr yah,,wkwkwk)
    tapi, nda usa panggil uni, mba, teteh, dang, ayuk dan sejenisnya…kita panggil nama ajah yahh…^^

    hayuuuu, temenan di efbeee, biar dunia lebih serruuu…hihihihi….:D :p

    • eh, tapi ko ak nda pernah liyat kamu panggil “kukilo” yahh?hee….
      ranu pernah, fachri pernah, indra pernah,,,
      ko yg nama belakang nda pernah?
      #maap, kalo ini sbuah pertanyaan bodoh…hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s