The Way I Found Him: F.A.C.H.R.I

Standard

Precaution! :!: Postingan ini panjang, dan barangkali membuat anda bosan. Sebelum melanjutkan ada baiknya saya beritau.

It’s just about me and a GREAT EPISODE of my life. If you’re not a fan of mine interested to know, just leave this page :mrgreen:
It’s just about a funny LOVE STORY of mine. If you’re still under-age to understand, I suggest you not to continue reading :oops:
It’s just about the way I change my status from single to MARRIED, that I wanna save deeply, and that’s why I write it :wink:
It’s just about a name that suddenly I find in my life: F.AC.H.R.I
~ oOo~

    Tidak banyak hal yang kuingat tentang dia semasa kami berteman di SMA, karena kami juga bukan teman akrab, seperti aku berteman dengan teman-temanku yang lain. Selain menjadi anggota SKI, dia juga anak pecinta alam, GEMPITA, yang lebih menarik perhatiannya daripada kegiatan di SKI kami. Berbeda denganku yang konsen (ceileh…) mengurusi SKI, lha secara aku ketua akhwat (ala kadarnya). Dengan demikian, tidak banyak kesempatan dan kepentinganku berinteraksi dengan anak ini, pun aku juga tidak punya urusan dengannya. Hidupku ya hidupku, hidupmu ya hidupmu, aku bertingkah bagaimana, dia berulah bagaimana… just let it flow, tidak berminat untuk peduli atau mengurusi. My joy is mine, and vise versa. Karena dia juga jarang-jarang nongol di SKI, maka secara tidak disengaja masuklah dia dalam daftar orang yang kurang kupedulikan dan kurang kutahu kondisi ter-update-nya, hehew. Ada ya syukur alhamdulillah, tidak ada ya sudahlah tak masalah, hehehe (kejamnya) :mrgreen:

    Bahkan saat khitbah pun, aku baru tau kalau temanku Gandhi, yang juga se-SMA dengan kami, adalah saudara dekatnya. Saat melihat Gandhi turun dari mobil, heran lah aku: lhah, ngapain tu anak ikutan ke sini? Iya sich mereka teman dekat, sodara pendaki juga, tapi kenapa sampai dibawa ke acara ‘amniyah’ begini…? Lantas daripada memperhatikan Fachri, tentu saja aku lebih tertarik menyapa Gandhi, “Hei Gandhi, kok ikut ke sini?” Kupikir-pikir lagi, pertanyaanku ini gak sopan deh :cry: tapi toh terlanjur, biarlah. “Iya, aku…sepupunya.” Jawab Gandhi sambil menunjuk ke arah Fachri yang sudah dari tadi masuk ruang tamu. “Oooh…” baru tau aku dua makhluk se-spesies ini masih ada hubungan kekerabatan. Saat kuceritakan pada temanku yang juga temannya Gandhi dan Fachri, dia komentar: “Oalah… Seluruh dunia juga tau Gandhi itu Pakliknya Fachri”. Halah, pake bawa-bawa dunia. “Itu duniamu, bukan duniaku. Di duniaku dahulu, nama Fachri bukan hal penting untuk kupedulikan.” Jawabku. Jadi pantas lah kalau aku baru tau sekarang. HOHOHO :lol:

    ackward moment

    Intinya, tidak banyak kenanganku dengan anak itu semasa berteman di SMA, hanya sesekali bertemu, bertegur sapa, ngobrol seperlunya, begitu dan begitu, hal-hal yang kurasakan sebagai formalitas saja. Tiga tahun sekolah tidak pernah sekelas: dia IPA 1, aku IPA 4 (kelasnya berjauhan donk). Dia lebih aktif di GEMPITA, aku di SKI, olahraga dia sepakbola, aku badminton. Pokoknya, banyak ketidaknyambungan di antara kami. hahaha. Di foto-fotoku bersama teman-teman SMA, juga tidak pernah ada foto dia nongol. Karena biasanya aku juga sukanya hang out (hehehe) sama teman-teman kelas atau teman satu gank ipin-upin SKI yang terdiri dari: Adit, Susilo, Husein, Andika, Tanti, Intan Nila, Intan Santa, dan saya. Semacam…kami ini beda dunia (lebay!).

    idhul fitri rame-rame

    Sejujurnya, saat SMA, saya lebih banyak tahu tentang kebandelannya daripada kebaikannya, hehe. Sampai saat bertemu ibunya pertama kali, beliau cerita pernah dipanggil oleh sekolah karena apa gitu, aku lupa. Dalam hati aku bergumam, oalah ya Allah, inikah gunanya Engkau jodohkan dia dengan “seorang konselor”…? hehehe.

    Pernah suatu ketika saat saya dan teman-teman akhwat membereskan gudang mushola kami yang super berantakan, aku mengomel menemukan benda-benda yang seharusnya tidak ada di sana: “Kok bisa ada kubis sampai busuk di sini. Ini sarung siapa sich?!! Sabun mandi ditinggal pula. Buku Diary-nya Susilo ki lho, kok bisa ditinggal di sini? Nah ini, kaos GEMPITA sapa ini…?!!” lantas masih kuingat sampai sekarang, salah seorang temanku menyebutkan sebuah nama: “Ranu…” Entah aku lupa setelahnya kusingkirkan kemana kaos hitam bermerk GEMPITA itu, :twisted: maaf ya. Yang jelas aku sudah sebal sama benda-benda yang kebanyakan punya ikhwan-ikhwan SKI itu, memenuhi gudang kami yang sudah sangat sempit.
    Oalah!

    Entah kenapa saat kelas tiga, tanpa pernah kuminta atau kusengaja mencari tau tentang anak ini, tiba-tiba beberapa orang yang kutemui bercerita tentangnya. Saat les bahasa Inggris, Pak Guru yang juga guru bahasa Inggris kami di SMA tiba-tiba cerita apa gitu, yang ujung-ujungnya nyangkut Fachri, “Masa ya, besok itu ujian, sore mau maghrib masih sempatnya maen sepak bola di lapangan Gulun…” sambil geleng-geleng kepala pertanda heran. Saat kutanya, “Siapa Pak?” beliau menyebutkan satu nama: “Fachri Ranu itu.”
    Oalah!

    Saat les matematika begitu pula. Bu Guru yang juga wali kelasnya Fachri sambil mengajar entah kenapa aku lupa, diselingi ngrasani tentang Fachri: “Lha yo to, bocah pinter-pinter nek dikandhani bandel eram. Berapa kali Bu Tri tu bilangi rapornya suruh dikumpulkan, sampe capek bilangi, yo belum dikumpulkan…” Lantas teman lesku bertanya, “Siapa Bu?” beliau menyebutkan nama yang sama: “Kalo bukan Mas Fachri Ranu siapa lagi.” Oalah! Anak itu lagi. Kenapa musti pas cerita kacaunya ya… :roll:

    Uniknya, saat dia bercerita tentang masa SMA kami, entah kenapa banyak kejadian tentangnya yang ter-skip olehku. Dia pernah ikut lomba nasyid dan juara satu, dimana saya adalah panitianya dan hadir di situ, tapi sekilas pun aku tidak ingat dulu ada dia dan menjadi juara di sana. Tim nasyid kelasnya itu yang kemudian tampil di perayaan Hari Kartini di sekolah kami. Dia juga pernah ikut atraksinya GEMPITA di SISO CUP – Ultahnya SMA. Herannya, di dua momen itu saya tidak pernah absen, tapi juga tidak pernah ingat ada dia tampil. Dia pernah juara dua lomba adzan, penyelenggaranya SKI juga, dan saya lagi-lagi tidak pernah ingat ada namanya. Wow, sepertinya benar-benar Ranu yang dulu tidaklah penting bagi memoriku untuk disimpan, hehehe (it was in the past, dear…) Tapi saya bersyukur melewatkannya, sehingga menjadi surprise sekarang ;)

    Setelah kelulusan, lost kontak beberapa waktu, bahkan sempat kehilangan nomornya beberapa kali seiring HP saya yang hilang. Interaksi ya sekedar SMS silaturahim sekaligus ucapan dua hari raya plus Ramadhan.

    Terakhir kali bertemu sebelum khitbah adalah saat reuni dan buber akbar di sekolah almamater kami, SMAGA. Itupun kami juga tidak saling bertegur sapa, dan seperti biasa, saya selalu ribut sendiri sama teman saya yang bernama s*usil*o.

    Setelahnya… beberapa lama kemudian,
    Bermula lah proses itu… :oops:

    Singkatnya… itu semua melalui proses panjang dan lama bersama orang-orang berjasa berikut ini:
    murobbi dia yang ternyata adalah sekretaris DPD PKS Kota Sorong, murobbi saya, murobbi baru saya, ustadzah, dan orangtua kami pastinya.

    Membaca proposal nikah dia sungguh membuat saya tertawa-tawa. Deskripsi tentang dirinya singkat sih, tidak se-hore dan sebagus narasi proposal saya (lho, kok sombong?!) sampai sama murobbi saya dikomentari, Jan…jan, proposal antum ini, bahasanya Hanis banget. Sana di-edit. #nyengir. Entah apa pula maksud kalimat “Hanis banget” tapi kemungkinan karena proposal saya lebih mirip cerpen kali yak! :shock:

    Nahhh, yang membuat saya tertawa adalah beberapa deskripsi dirinya yang 180 derajat berbeda dengan saya.

    Dia orangnya kurang bisa bergaul dengan orang baru, hmmm, beda banget denganku. Dia suka olahraga terutama basket, sepak bola, tenis. Haha, gak nyambung denganku, yang bisanya cuma lari dan badminton. Itupun mood-mood’an, olahraga adalah hal yang tidak kuprioritaskan. Dia suka hiking, naik gunung, berpetualang di alam bebas. Walah, capek deh. Dia hobi fisika dan matematika, hobinya mengerjakan soal math dan fisika untuk refreshing. Whatttzzz? :shock: Kesurupan Einstein orang ini…?!! Refreshing dia bilang? Kalau aku stress yang ada.

    Dia memang hobi fisika, katanya sih… Pernah dengar juga saat Om-nya cerita, betapa dulu ibu, kakak, dan keluarganya sangat sulit dan lama membujuk dan merayu dia untuk beralih dari Teknik Fisika ITS, idamannya, menuju STPN.

    Stay cool, Honey! :cool: Just be grateful of all we have now #blinking eyes! :wink:

    Dulu pernah sich terbersit pikiran bahwa aku ingin punya suami yang pintar math dan fisika. Selain agar saling melengkapi, juga biar nanti bisa mengajari anak-anak. Kan, jadi bisa hemat biaya les to? :lol:

    Dan ini yang paling menggelikan dari proposal dia: dia benci pada benda kesayangan saya: balsam, minyak kayu putih, dan kawan-kawan. :?: apa jadinya…seorang Hanis yang kemana-mana tak lepas membawa balsam, bersanding dengan seorang yang anti-balsam…?!!

    Jika sama tanda sehati, berbeda tanda saling melengkapi… that’s right!!!

    And… it begins!
    Memutuskan menikah adalah keputusan terbesar yang pernah saya hadapi dalam hidup. Ini benar-benar tentang sebuah KEPUTUSAN, yang akan memutus banyak hal, sekaligus menyambungkan lebih banyak hal lainnya. G-A-L-A-U. Saya rasa tak ada gadis yang tak GALAU saat hendak memutuskan menikah. Eh, ditambah lagi satu pertimbangan penting: MENIKAH DENGAN FACHRI RANU…??!! Sempat G-A-L-A-U lagi, apa kata dunia jika saya menikah dengan teman sendiri??? Apa pula reaksi teman-teman SMAGA??!! dan para fans saya??!! Wawawaaww! #mengambil tindakan: ISTIKHARAH! Alhamdulillah, ditambah dengan penguatan dari beberapa orang yang saya percaya dan sebuah logika yang menenangkan: “kenapa pula saya memikirkan apa kata orang jika saya sendiri yakin saya menempuh cara yang ahsan…??!!” hati saya menjadi lebih tenang untuk memutuskan.
    and…

    The decision decided! :cool:

    …………………………………..zzzzzzzzzzzzzzzzzz………………………………………… :lol: skip skip skip!
    17 Ramadhan 1432 H a.k.a 17 Agustus 2011, nyebar undangan, menggegerkan kontrakan, kampus, dan warga SMAGA.

    SO MANY SURPRISES!!!
    Saya tidak mengajukan pertanyaan apapun padanya saat proses kami. Bisa dibilang, tanpa ta’aruf (jangan tanya kenapa saya tidak bertanya). Itu pula yang membuatnya sempat heran bertanya pada ustadznya: Hanis, tidak menggunakan hak tanya-nya??!! Ajaib.. (lebay sih). Tapi sungguh saya tidak menduga bahwa ternyata, semua kriteria yang saya ajukan dalam proposal, semua ada padanya. How come…??!! Setelah menikah diapun bercerita, “Sejujurnya, saat itu, aku lebih siap kau tolak daripada kau terima…” deng deng..!! :roll: .. :shock: hahaha. Ada banyak kejadian lain yang membuat kami sama-sama terheran-heran, dan akhirnya berujung dengan tawa dan syukur…ALHAMDULILLAH pokoknya, rencana Allah itu sungguh penuh misteri, yang jika di kemudian hari kau ketahui, kau akan banyak berucap: SUBHANALLAH…

    Oho! Ada lagi yang lucu. Seperti yang kusangka, pasti banyak teman SMA terkejut dengan kabar pernikahan kami. Benar saja, via facebook, telepon, SMS ataupun yang face to face, mereka mengklarifikasi dengan nada heran: Hanis nikah sama Fachri?? Luar biasa. Isi salah satu SMS teman yang masih saya simpan. Ada lagi banyak ekspresi Wow, Oh my GOD!! subhanallah, kok bisa…prosesnya gimana?? dan lain-lain… bla bla bla…yang antara lain bernada sama: SEOLAH TAK PERCAYA.

    Jangankan kalian, aku juga tidak pernah terbersit satu lintasan pikiran pun kala itu, bahwa cowok berambut sigaran jambe (belah tengah) jaman SMA yang dulu tidak kupedulikan itu, eh… subhanallah, menjadi orang NOMOR SATU di hidupku, sekarang dan seterusnya, sepanjang sisa usia kami… #ciehehe

    “Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah putera dari kecocokan jiwa. Dan jikalau itu tiada,Cinta takkan pernah tercipta, dalam hitungan tahun, bahkan milenia.” (KAHLIL GIBRAN)

    nice regards,
    hanisincerely ;)

40 responses »

  1. @ Uda: hahaha.. someday i’ll post it! *tapi someday-nya itu kapan ya? (huhu.. berharap Hanis mau ngajarin mbaknya ini)

    @ Hanis: aiih.. akhirna diposting juga.. it means, mbak gak perlu buat tulisan tentang ‘pertemuan’ kalian itu. hehe.. syukron ya de.

  2. subhanallah, menarik mengikuti alur ceritanya. cinta memang unik dan penuh kejutan. semoga langgeng ya pernikahannya dan dikaruniai anak-anak yang sholih dan sholihah. amin. salam kenal….

  3. Pingback: hai hai rehai! « .: haniself :.

  4. lagi jalan-jalan blog (aka blogwalking), eeeehhh,,nda tw nya nemu blog gokil iniiiiihhh….hihihi…
    pissssssss…. ~__^

    salam kenaaaaalllll dari kaka yaaaah Haniiiissss (soksoktua),hihihi…

    seneng deh baca blog orang2 sanguin….menghiburrr…hihihi…
    membahagiakan orang itu berpahala kan yaahh??ahahaha….

    semoga langgeng yaaahh…
    tapiii, kata2 kahlil gibran yg dikutip itu bikin saia nangis..hihi
    punya pengalaman buruk soalnya,hihi
    *ko jd curhat yaahh?? ahaha….

    eihh, tukeran link yuuukk…
    ak taro di link ku yaaahhh…
    ^___^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s