Jika aku seorang murobbi… Pantaskah??

Standard

“Sampaikan walau satu ayat”
“watawa soubil haq”
“…wa amma man jaaka yas’a, wa huwa yakhsya, fa anta ‘anhu talahha, KALLA innaha tadzkiroh…”

Jika Tuhan yang mengatakannya, masih beranikah orang seperti ini menyangkal? na’udzubillahimin dzalik.

Rasa minder itu pasti ada, dan untuk urusan begini justru wajib minder, karena dari minder inilah muncul motivasi untuk belajar lebih. Mempersiapkan diri lebih dan lebih. Karena syarat mutlak dari memberi adalah terlebih dahulu memiliki. Apa yang kita beri jika kita tidak memiliki sesuatupun untuk diberikan?

Seseorang yang telah menyatakan diri sebagai muslim yang telah menginfakkan seluruh jiwaraganya untuk islam saya rasa kurang pantas bila menjawab “tidak”, dengan alasan tidak siap bekal. Memang benar, menjadi murabbi merupakan tanggung jawab besar, sangat besar. Lantas apakah dengan besarnya tanggung jawab ini kita harus mundur? Apakah ketiadaan bekal adalah alasan yang cukup untuk mundur?

Sebuah pemikiran. Jika tidak tersedia bekal ya segera kumpulkan. Jika tanggung jawab ini terlalu besar, berarti kita harus membesarkan diri kita untuk mampu membawa ini semua. Semua ada harganya, apakah kita rela menukar itu semua dengan kemenangan Yahudi laknatullah? Kita ini sedang berperang Saudaraku.

Membuka memori tetang murabbi kita. Beliau bisa, kita sama-sama manusianya dengan beliau. Apa alasan kita untuk mencoba menjawab “saya tidak bisa” dan “saya tidak mau belajar untuk bisa”. Maka disini saya menjawab, beri kesempatan untuk saya belajar, dan mohon bimbingannya.

Membuka memori tentang murabbi, bagaimana perasaan beliau jika mad-u nya stagnan tetap menjadi penikmat, bukan penebar nikmat? Bukan hanya perasaan, tapi juga amal jariyah beliau yang harus terhenti pada satu sisinya di tangan kita, di langkah kita. Meski beramal tidak hanya dengan menjadi pemateri di halaqoh.

Innasholati, wa nusuki, wa makhyaya, wa mamati, lilahirobbil ‘alamin..

Membuka memori tentang murabbi. Setelah 63 tahun kesempurnaan hidupnya, penuh cinta ia memanggil-manggil kita. Ummati, ummati, ummati. Berharap tak pernah pudar risalahnya, warisannya. Pewarisnya, para ulama, guru umat, yang mengajarkan dan terus mewariskan dienul Islam telah menapaki ribuan langkah, menyambangi pelosok negeri, menentang arus, badai, dan segala resiko. Rela menukar nyawa-nyawa mereka.

Membuka memori tentang murabbi. Ia menanti kita mengintip dunia, untuk kemudian menjelajahinya. Manis sekali ia membawa kita kemanapun ia melangkah, 9 bulan lamanya. Memberi kita makanan dari air putih ajaib -(bedakan antara bening dan putih)- selama 2 tahun. Mengajarkan kita segala hal tentang cinta dan kebaikan. Butiran harap dalam lantunan doanya, pada akhirnya mengantarkan kita pada segalanya. Semoga bayi kecil ini nantinya tumbuh dewasa dan hidup sebagai kekasih Tuhan. Meski menjadi kekasih Tuhan tak harus menjadi pemateri halaqoh.

Membuka memori tentang murabbi. Ia menanti kita mengintip dunia, untuk kemudian menjelajahinya. Manis sekali pertama ia mengumandangkan adzan di telinga kanan kita, panggilan kemenangan. Ia telah menghibahkan kita untuk kemengan. Ia memberi nama kita, memanggil kita dengan penggilan doa yang indah, dengan harapan putra-putri kecilnya kan tumbuh sebagai pejuang manfaat, penjemput kemenangan. Yang terus mendedikasikan segala miliknya untuk bermanfaat bagi Rabbnya, untuk kemengan dien Rabbnya. Meski bermanfaat untuk Tuhan, meski menjemput kemenangan tak hanya dengan menjadi pengisi materi di halaqoh.

Membuka memori tentang murabbi. Beliau yang mengajarkanku untuk itu semua. Semuanya. Hingga tulisan inipun terbaca oleh anda.

Murabbi. Seorang akhwat yang terus menghabiskn waktunya didepan laptop dan tablet. Melahirkan barbagai karakter dari rahim khayalannya. Membuatnya berlari, melompat, dan melakukan semua hal. Photoshop, flash, atau swishmax. Akhwat itu mengajarkan budipekerti kepada anak-anak, remaja, dan manula sekalipun. Keseluruh pelosok Indonesia, atau kebelahan bumi manapun yang tak terisolir dari media elektonik. Menentang budaya yang teragamakan, ia lantang membudayakan agama, Islam. Itulah dia muslim animator, muslim illustrator. Itulah mufi, dalam rahim khayalan mufi, entah kapan mufi ini akan lahir. Khayalan seorang muslim fisikawan?
Atau hanya cita-cita yang akan terwariskan?

Rabbku yang akan menjawabnya.

>> Ini bukan tulisan saya,
saya hanya tiba-tiba membaca kertas penugasan ini saat menjadi SOT di suatu acara.
Dear, honey… jadilah murobbi (^-^)/

14 responses »

  1. setiap kita pasti menjadi murabbi.. minimal murabbi diri sendiri dan keluarga.. :) :)
    mari siapkan diri kita semua ‘tuk menjadi murabbi..

    tetap menginspirasi mbak..!
    salam,

  2. Rasa minder itu pasti ada, dan untuk urusan begini justru wajib minder, karena dari minder inilah muncul motivasi untuk belajar lebih
    Kalimat pelecut motivasi…belajar…belajar…belajar (makasih atas tadzkiroh-nya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s