Seberat Gunung Thursina

Standard

Dalam hal amanah, alhamdulillah saya bukan tipikal protestan, maksudnya yang suka protes, tentang apa bagaimana dan dengan siapa saya harus bekerja. Saya hanya perlu sebuah petunjuk bagaimana bekerja dan butuh seorang manusia yang bisa diajak beramal, seseorang yang bisa diajak berbuat sesuatu. Meskipun seringkali amanah terasa berat, paling pol respon yang saya tunjukkan saat merasa tak mampu adalah sekedar terhenyak dengan membatin segudang tanda tanya. Tapi toh tanda tanya itu saya jawab sendiri juga dengan kalimat: mungkin inilah cara Allah menjaga saya agar istiqomah. Selanjutnya, ya akan saya jalankan apa yang menjadi amanah saya, seberat apapun, sesulit apapun, saya terima dan jalankan, seoptimal saya, semampu yang saya bisa. Karena saya selalu percaya, kalau memang amanah ini tidak pantas untuk saya, Allah akan menghadirkan sosok lain yang lebih baik dari saya. Dan alhamdulillah, keyakinan saya ini terbukti. Suatu masa ketika saya telah merasa bodoh memimpin dan tak mampu mengemban dengan baik, Allah menghadirkan generasi pengganti seorang ikhwan yang jauh lebih bisa diandalkan daripada SEKEDAR SAYA! Segala puji bagi Allah, DIA Maha Tau keterbatasan saya. Tidak ada manusia yang sempurna kebaikannya, yang ada adalah orang-orang yang berusaha sebisa mungkin mempertahankan perbuatan baik yang ia lakukan, dimanapun ia berada, sekecil apapun yang ia bisa.

Sebenarnya ada yang sedang saya pikirkan pemirsa, bahwa sebentar lagi Allah akan menimpakan sebuah amanah yang sangat besar pada saya: PERNIKAHAN,insya Allah. Mitsaqon gholizho yang ukuran beratnya perjanjian ini setara dengan perjanjian Bani Israil saat gunung Thursina diangkat untuk mereka dan setara dengan perjanjian agung antara Allah dan rasul-rasul-Nya.

    “… Dan mereka (istri-istri kalian) telah mengambil dari kalian MIITSAAQON GHOLIIZHOO (perjanjian yang berat).” (An nisa: 21)

Wah wah, apakah rasanya mengemban amanah pernikahan seperti memikul gunung Thursina ya? Jika memang iya, tentu saja saya harus terus meminta pada Allah Yang Maha Kuasa untuk menguatkan hamba-Nya yang lemah dan sering rapuh ini agar bukan keluhan yang dilontarkan saat beban memberatkan, agar doa yang dipanjatkan di setiap jengkal perjalanan. Dan tentu saja, saya harus terus meminta pada Allah, sebagaimana Musa request agar Harun menemaninya, saya meminta seorang teman beramal yang bersamanya kami bisa bersama-sama memikul gunung Thursina, eh maksudnya…saling meneguhkan kekuatan, saling menjadi pengukuh dalam segala urusan, saling menjadi penjaga ketaatan kepada Allah, hingga kami senantiasa bertasbih serta memuji-Nya di kala suka dan duka.

    Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami“. (Thaahaa: 25-35)
  • sincerely, hanis
  • 2 responses »

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s