The Way I Remember

Standard

Kamis sore…

Aku juga tidak tahu kenapa aku duduk di sini. Seingatku, gapura sumbersari gang 6 ini tidak bertangga, lhah kok, nyatanya aku sedang duduk manis di tangga ini, menghadap jalan dan entah menunggu apa. Di belakangku, seorang ibu paruh baya melakukan hal serupa, duduk di anak tangga atasku. Mungkin menunggu angkot lewat.

Aku masih tidak faham sendiri kenapa aku ada di sini. Sambil menatap jalanan yang sepi, tiba-tiba diantara lalu lalang orang melintas di depanku, ada sesosok cowok berjalan ke arahku. Aku seperti mengenalnya. Cowok Tionghoa berkulit putih (ya iya lah) berkaos basket tanpa lengan, bercelana pendek selutut. Sepertinya habis main basket. Dia melintasiku yang duduk di tepi tangga, berjalan menaiki tangga hendak masuk gang. Aku mengerutkan kening, setengah berpikir dalam heran, sepertinya aku mengenalnya! Sebelum dia benar-benar menjauh dariku, aku menoleh dan bergumam agak nyaring, “Roby Tano…?” setengah ragu apa benar aku menemuinya di sini, di Malang…? Tanpa kuduga, sosok yang berlalu dan sekarang sedang berdiri di belakangku berbalik. “Ya…?” ia membalikkan badan dan menatap ke tengah jalan, mencari suara siapa yang menyebut namanya. Merasa mendapatkan pembenaran bahwa orang yang ada di depanku ini adalah Roby Tano, aku berdiri menghadapnya.

“Robby Tano? Kamu Robby Tano?” intonasiku jelas so surprise. Tapi kok remang-remang tidak kelihatan jelas wajahnya. Oh, ini sudah maghrib mungkin.
“Iya…” wah, kok ekspresinya biasa saja, apa dia lupa padaku?
“Aku… Hanis, teman sekelasmu.”
“Ohh, Hanis…”

Entah, aku juga tidak faham bagaimana ceritanya, sekarang aku sedang duduk bersamanya di tangga. Masih heran kenapa bisa begini. Kami saling bertanya kabar, dan tentu saja serentetan pertanyaan dariku, kenapa dia berada di sini, di Malang? Sama siapa di sini? Ngapain dia berkostum basket lengkap begitu, habis pertandingan kah? Roby Tano merespon dengan nada dan ekspresi yang biasa saja, padahal setauku dia anak yang cheerful, penuh semangat kalau ngobrol, dan full ekspresi.

“Eh, tau tidak apa yang membuatku ingat padamu di saat-saat seperti ini?” aku melanjutkan obrolan yang garing ini.
“Apa?”
“Petasan, hehehe… kalau musim begini kan banyak penjual petasan di jalan-jalan. Aku jadi ingat kamu, hehehe…”
Dia ikut tertawa kecil.

Lalu sampailah aku pada pertanyaan ini,
“Robby, pacarmu siapa sekarang?” aku juga heran kenapa pertanyaan ini yang keluar dari lisanku.
“Mmmm…. tidak ada Nis.”
“Oh, atau Lusi?” ya Tuhan, kenapa aku menyebut nama ini, dia adalah teman sekelasku waktu kelas 1 SMA. Anak Tionghoa, temannya Robby juga. Tapi entahlah tanpa kusadari tiba-tiba nama itu nyeplos saja.
“Bukan.” Dia menggeleng.
“Oh…” manggut-manggut.
“Pacarku, anaknya seorang ustadz Nis. Dia berkerudung, agak gendhut …”
“Hah?? Apa?!!!” kaget banget donk. Masa seorang Roby Tano yang Tionghoa dan Budha, punya pacar anaknya ustadz…??!!! Oh, ini penemuan langka! Perlu kugali lebih lanjut cuplikan cerita ini. Sayangnya sebelum sempat aku dengar penjelasan lebih panjang darinya, tiba-tiba aku jadi sulit mendengar suaranya. Semakin lirih, membuatku semakin mengerutkan kening… hei hei… aku tidak dengar kamu bilang apa. Dan sayangnya lagi, belum sempat aku bertanya lebih banyak, tiba-tiba aku pun sulit berkata-kata.

Nggg………………….zzzzzzzzzzzzzzzzzz………………… ahh, kenapa tiba-tiba sulit melanjutkan obrolan kami?

Tiba-tiba badanku terasa lemas, sepertinya aku menderita sebuah gejala: DEHIDRASI. Lhah! Apa hubungannya dengan cerita di atas?

Mataku perih. Perlahan kubuka mata perlahan. Di sisiku, sesosok makhluk berkostum putih-putih sedang meringkuk menggumamkan kalimat-kalimat yang kukenali. Siapa lagi dia?

Ohhh, ya Allah, itu Irna sedang duduk di sisiku. Tilawah.
Kuraih HP yang tergeletak di lantai. Jam empat! Wahhh, aku belum sholat asar.

Ya Allah, ternyata barusan aku mimpi. Ketemu Roby Tano pula.
Kenapa oh kenapa memimpikan dia? Sedikitpun tidak terlintas pikiran tentang temanku itu, pun juga aku bukan penggemar petasan (lho, apa hubungannya?). Tapi sepintas mimpi barusan cukup membuatku mengingat kenangan teman lamaku itu. Iya ya, saat SMA aku punya teman unik satu ini, Roby Tano. Anak ini sangat lucu, atraktif, jujur, baik hati, suka menolong, dan suka berbagi.

Robby Tano, temanku sekelas selama dua tahun di SMA, jagoan basket, kapten andalan, dan peraih berbagai penghargaan sebagai pebasket.

Robby Tano, temanku yang rada-rada hiperaktif, tidak bisa diam kalau di kelas. Sampai-sampai pikiran usilku tentang dia dulu, aku jadi ingat Sun Go Kong kalau melihatnya, hehehe, selain karena dia seorang penganut Budha, juga karena dia selalu bertingkah terus di dalam dan luar kelas.

Robby Tano, anak ini sangat friendly, kooperatif, dan selalu ceria. Pernah saat aku berjalan menuju kantin di samping kelas kami, XII IPA 4, dia tiba-tiba berjalan menjajariku.
“Hei Hanis ni katanya kalau jalan cepet banget ya? Ayo coba balapan sama aku, cepetan siapa?”
“Ayo.”
Hahaha, pastilah bisa ditebak, dia yang menang. Selain karena dia cowok, pebasket, dia juga berkaki panjang, hehe.

Pernah juga saat tanggal 14 Februari, yang baginya hari Valentine, dia bagi-bagi coklat ke anak sekelas. Ya ampyunnn, care banget si loe…

Nahhh, aku tak pernah lupa cerita yang ini. Dulu, jaman sinetron “Doa Membawa Berkah” kalau gak salah, soundtrack-nya kan lagunya Raihan tuh yang judulnya “Puji-pujian”. Eh, lucunya si Roby ini, mungkin dia ikut nonton sinetron Ramadhan itu kali ya… dia sering banget nirukan lagunya di kelas, pas pada lirik ini:
“Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah…”

Diulang-ulang terus, nyaring dan PD pula nyanyinya. Nah, aku kan senyum-senyum sendiri merhatiin dia ya, lalu pernah aku bilang ke dia, “Roby, kamu kok nyanyi gitu…?”
“Lha kenapa Nis? Salah ya? Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah…” dia kembali menyanyikan lirik itu, dengan nada yang difasih-fasihkan, “gimana, sudah bener?” lhah, ketawa lah aku, mungkin dia mengira maksudku nada atau kalimatnya kurang benar.
“Bukan begitu maksudku. Itu kalimat syahadat namanya, kalimat yang dibaca orang untuk masuk Islam. Nah kalo kamu baca itu, nanti kamu masuk Islam lho… hehehehe.”
Dia nyengir saja sambil ber-oh…oh… lantas ngeloyor sambil nyanyi lagi. Ya weslah, sak senengmu…

Nahh, cerita gokil lainnya adalah saat pelajaran Bahasa Indonesia apa ya, kami mendapat tugas apa ya, lupa deh. Bikin apa gitu. Nah, giliran dia yang dipanggil maju sama Bu Guru, dia ditanyai beberapa hal dan tidak bisa menjawab. Lantas Bu Guru bertanya, “Kamu ini buat sendiri apa mencontoh?” kamu tau apa yang dia katakan? Dengan jujurnya dia menjawab, “Mencontoh, Bu.” Innocent betul tampangnya, bahkan saat Bu Guru bilang dia harus mengerjakan lagi, dia terima saja sambil senyum-senyum. Tapi uniknya, tak seperti yang kami sangka, ternyata Bu Guru kami tidak marah, malah senyum-senyum juga. Kami yang menyaksikan peristiwa itu tentu saja tertawa-tawa, sambil saling lirik ke teman-teman yang lain, karena beberapa di antara kami juga ada yang melakukan hal serupa (mencontoh) tapi ya tidak mau ambil resiko dengan mengaku seperti si Roby ini. Anyway, salut lah pada kejujuran anak ini!

Begitulah dia. Setidaknya mimpi aneh yang kualami tadi membawa ingatanku padanya. Mungkin Allah sedang ingin aku mengingatnya, nyambung silaturahim tah mendoakannya gitu. Maka malam harinya, aku SMS salah seorang “teman jadul”-ku, hihihi.
Aku : Ter, minta nomornya Roby Tano punya?
Tertian : ndak punya, banyak nomor yang ilang. Coba tanya Desy mungkin punya.
Aku : owh, minta nomornya Desy kalau gitu.
Tertian : no Hpnya Desy coba tanya Mbolo. Nah, nomornya Mbolo coba tanya Nuke. Nah, ini nomornya Nuke 08155644xxxx … blablabla

Gubrak! Ya Allah… Tertiaaaaannnn! Kok mbulet begitu. Oalah…

Ya sudahlah, dimanapun kau berada, semoga Tuhan menjagamu, Roby Tano :)

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s