Just Like a Fairy Tale

Standard

Putri Syalala Cerya Slaluw, adalah seorang putri kerajaan “Semesta” yang dilahirkan di sebuah desa hijau nan permai di pedalaman negeri Endonesya, dengan begitu banyak domba dan sapi digembala oleh para penduduknya. Ia tumbuh sebagaimana putri-putri cantik lain di desanya, bermain petak umpet, berlarian mengejar ayam, tertawa , menari, bernyanyi, ataupun berenang di sebuah sungai yang namanya sudah ribuan tahun tersohor di dunia: sungai “Ngga’-ngga’”.

Putri Syalala berwajah manis biasa saja, tak pula secantik Aiswarya Rai mantan miss universe itu. Hanya saja ia selalu menarik hati untuk diperhatikan. Kenapa? Karena dia pintar mungkin, ini prediksi sementara, saat Putri Syalala masih kanak-kanak.

Syalala kanak-kanak, mulai bersekolah di SD Tereliye. Di kelasnya, ia mempunyai lima orang teman laki-laki, yang di kemudian hari ia tahu, ternyata empat dari lima orang temannya itu sama-sama jatuh hati padanya, dengan beragam ekspresi cinta yang unik dari masing-masingnya. Ada Tonny Lee, yang suka mengiriminya surat cinta dan puisi cinta di kertas berbentuk kupu-kupu dengan warna-warni indah. Apakah lantas Putri Syalala terharu? Tidak! Bahkan dia sering sebal karena ulah anak itu. Bagaimana tidak, dia selalu menyelipkan surat cintanya di penghapus Syalala, dengan menyayat penghapus tersebut menjadi dua, lalu menyelipkannya. Setiap kali penghapus Syalala hilang, selalu ditemukan oleh Syalala dalam keadaan terbelah, dan tersisip lipatan kertas kecil di dalamnya. Arrrrgggghhh, ulah siapa ini??!! Geram dalam hati. Beberapa hari berikutnya, tahulah ia, itu adalah modus Tonny Lee mengungkapkan isi hatinya. Maka selanjutnya setiap kali penghapusnya hilang, Syalala selalu tanya pada Tonny. Lalu sehabis mengembalikan pada Syalala, Tonny Lee akan berlalu begitu saja sambil senyum-senyum gak jelas, meninggalkan Syalala manyun optimum menggenggam penghapusnya. Ya Tuhan, cinta yang sadis…gerutu gadis itu dalam hati. Inikah namanya bentuk cinta??? Sungguh sulit dimengertikannya. Di kemudian hari, Syalala bersumpah tidak akan meminjami penghapus lagi. Tak urung juga anak laki-laki “kreatif” itu, ia ganti menyelipkan “the colorful butterfly love letter”-nya di bangku Syalala, di tas, di buku, dan lain-lain, dan seterusnya sampai dia bosan sendiri akhirnya dengan ekspresi “no reken” Syalala.

Ada pula Raju, si ketua kelas yang cool. Suatu ketika saat pagi hari baru Syalala dan Raju yang tiba di kelas, tiba-tiba Raju menatapnya tajam sembari cemberut berkomentar setengah mengomel tentang rambut baru Syalala: “Kenapa rambutmu? Seperti anak laki-laki begitu. Tak pantas anak perempuan begitu. Kalau aku jadi kamu, aku takkan memotongnya.” Tanpa menunggu jawaban apapun, Raju berlalu keluar kelas meninggalkan Syalala yang bengong. Lantas dalam kebingungannya ia mendesis lirih: lhah, ini kan rambutku, kenapa dia yang manyun…?!! *dongkol juga pagi-pagi diomeli tanpa sebab yang logis!

Lalu Syahden, hanya satu sebab konyol dan tidak masuk akal yang menyebabkan gosip merebak tentang mereka, yaitu: nama Syalala dan Syahden sama-sama berinisial “S”. Sungguh menyebalkan! Tapi toh Syahden yang mulanya cuek dan merengut bersungut-sungut, lama-lama senyum-senyum saja kalau digodai temannya tentang Syalala. Lhaaah…korban gossip!

Terakhir, Mahatir. Di sekolah, dia belagak cuek dan menjadi provokator ulung menjodoh-jodohkan Syalala dengan temannya, tapi selepas pulang sekolah, dia lah makhluk berambut jabrik yang mengejar-ngejar Syalala, membuntuti sepedanya sampai sukses memastikan Syalala aman sampai rumahnya (yang sebenarnya justru Syalala merasa tidak aman dibuntutinya –__–!!). Pernah juga ia mengutus dua sepupunya yang cantik-cantik menjadi tukang pos mengantarkan surat cinta. Setelah menerima surat itu, tanpa berminat membuka atau membaca, dengan sebal Syalala merobek-robek hingga hancur berkeping-keping. Sebal! Juga malu dan tidak tau mau bilang apa kalau sampai ibundanya tau, anak sekecil dia, dapat surat cinta??! Setelat lumat, endingnya justru Syalala penasaran, apa ya isinya? *glodak! Syalala kemudian mengumpulkan kepingan kertas yang kira-kira nyambung, dan terbacalah beberapa kalimat picisan. Bahh! Sama sekali Syalala tidak menyesal merobeknya. Huh! Belum lagi Mahatir yang juga merupakan tetangga Syalala, intens sok tidak sengaja lewat depan rumah Syalala hanya untuk menyapa dan tebar senyumnya, dan parahnya, seantero desa jadi tau bahwa Mahatir menyukai Syalala. Alamaaak… ilfil deh Syalala.

Selain mereka berempat, hanya tersisa sebuah nama: Takur Sign, nama anak laki-laki paling bandel di kelas, bahkan Syalala pernah mengutuknya “Semoga dia masuk neraka atas kejahatannya pada anak-anak perempuan…” (ouwooo, sebentuk dramatisasi anak-anak), termasuk Syalala yang sering dibuat menangis oleh pukulannya. Dan hal paling menyebalkan saat Takur Sign berulah adalah para teman laki-laki lain tidak ada yang berani membela. Itulah mungkin alasan Syalala sama sekali tidak berminat naksir teman-teman laki-lakinya.

Beranjak remaja, Syalala lulus dengan predikat terbaik dengan sederetan hadiah yang menyenangkan untuk ukuran seorang anak-anak sepertinya. Begitupun, berakhirlah deretan kisah cinta monyet bersama monyet-monyet kecil (uppsss, becanda!) semasa SD-nya. Syalala melaksanakan hadits Nabi “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Seperti biasa, dia sangat pintar meskipun bukan yang paling pintar, dan di sekolah lanjutan inilah DIA JATUH CINTA. Pada seorang pemuda negeri seberang, Zhu Ge Liang (hahhh? Iya aja deh!). Ya, sang ilmuwan cerdik penuh pesona dari negeri Red Cliff itu, Syalala jatuh cinta padanya, hingga sekian tahun berikutnya. Tentu saja dalam diam, karena selain tak ada kesempatan ia banyak bicara dengan sang pemuda, pun tak menguasai bahasa China selain “ni hao ma, wo ai ni, dan wo pu ce tau”, ia pun tak punya alasan kenapa harus menyatakan perasaannya pada Zhu Ge. Waktu berlalu, ada saja yang jatuh hati pada Syalala, dan seperti biasa, anehnya Syalala justru seringkali bertambah tidak suka pada orang yang jatuh hati padanya. Jadi seringkali ia sebisa mungkin menjauh dan menghindari orang yang mentaksirnya. Pernah saat berkegiatan bersama dengan siswa siswi se-sekolah, di salah satu sesi acara, seorang senior mempersembahkan serangkai bunga untuknya, on his knee pula! Dalam beberapa detik anak muda itu menatap Syalala. Matilah aku! Yang ditatap nyengir gak jelas, bingung mau berekspresi bagaimana. Saat si pemuda mendekat, ia semakin mundur. Meski parah malunya Syalala, diraih pula bunga itu agar segera berakhir peristiwa konyol itu, sembari merutuki ratusan mata yang memandangnya plus sorak sorai yang mengiringi, rasanya ia hanya ingin menjadi gelembung yang meletus dan menghilang dari tengah lingkaran besar di lapangan itu. Sial! Kenapa aku yang kena?!! Kenal juga nggak sama orang itu. huhhh! Dongkolnya menggunung Himalaya! Syalala selalu muak terhadap kekonyolan anak laki-laki yang cari-cari perhatian dengan cara berlebihan! Sampai hal konyol yang ia lakukan saat kelulusan adalah: memilih sekolah termahal dan terfavorit yang sekiranya tidak bisa diikuti oleh para pengagumnya. Ia berlalu meninggalkan China, dan kehilangan jejak Zhu Ge Liang, PASTINYA!

City School, sekolah dimana kedewasaannya mulai terasah. Ia berkembang pesat di sana, tentu saja tak lepas dari kisah cinta yang spektakular! Tahun pertama, hari pertama, ia sudah jatuh hati pada kakak seniornya yang ketika itu menjadi panglima sebuah perayaan tahunan sekolah. DIA JATUH CINTA dan menuliskan kekagumannya dalam selembar kertas yang memang ditugaskan untuk dibukukan oleh sekolah sebagai antologi curhat murid baru setiap tahunnya. Suatu hari, ia menyadari ia salah mengagumi sosok itu, Kakak Sun Rise, sebutnya. Ia tak lagi seperti mentari pagi hari, bahkan ia semakin menyuramkan hati Syalala. Intinya, ia salah taksir dan usailah perasaan itu.

Meski begitu, mulai tahun pertama di kelas, Syalala menemukan seorang sahabat sejati (ciee, apa iya towh?), hingga sepanjang usia mereka hidup sekarang. Namanya: Agung Gedhe Tambunan (saya ketawa gak abis-abis setelah mengarang nama ini! hufft!). Seperti namanya, ia berbadan gedhe perut tambun, wajah chubby, dan lucu. Syalala selalu gembira bersamanya. Tanpa ada kata lain selain “teman”, PASTINYA. Meskipun diam-diam Syalala tau sebenarnya, Agung sering mengamatinya dari jendela kelasnya saat Syalala baru datang dan memarkir sepeda di parkiran, hanya saja Syalala pura-pura tidak tahu. Lalu saat Syalala berjalan melewati depan kelas Agung, Agung selalu telah bersiap menyapanya di depan pintu kelas. “Syalala…” begitu sapanya setiap pagi, dengan senyum cengar-cengirnya. “Hai!” dan begitu jawaban pendek Syalala, dengan senyum cerianya, SETIAP PAGINYA! Lantas berlalu masuk kelas masing-masing. Menyimpan segala rasa mereka masing-masing.

Sampai pada suatu ketika, surprisingly, Syalala menemukan sebuah nama di daftar tamu sekolahnya: Zhu Ge Liang. Ya Tuhan…ia melakukan kunjungan kehormatan kesini kemarin, dan aku melewatkannya??! Masih sembari memandangi buku tamu itu, Syalala menyesali kenakalannya kemarin saat kabur dari “kuliah tamu” yang ternyata di sana ada Zhu Ge Liang. Syalala menelusuri hatinya…kenapa pilu begini rasanya, apa aku masih ………? Undesirable happening! Cukup menyalakan kembali perasaan lamanya. Syalala Cerya Slaluw, toh ia masihlah ababil (ABG labil), biarlah jika itu menjadi sebentuk dramatisasi episode hidupnya.

Putri Syalala remaja, meski tak begitu cantik, tapi ia tetap saja menarik. Entah apa yang menarik, tapi selalu banyak yang tertarik simpatik. Tanpa ingin menyebutkan nama-nama pemuda yang menyukainya, secara sirr maupun jahr, maksudnya diam-diam maupun terang-terangan, kenangan masa remajanya memang unik dan menimbulkan banyak pertanyaan di relung hati Syalala: Kenapa…? Sehingga…………………. *ahh, biarkan saja Syalala merenungi pikirannya, kita tinggalkan dia dengan cerita selanjutnya. Yukkk!

Syalala beranjak dewasa, mulai meninggalkan usia belasan. Syalala merantau, meninggalkan segala setting waktu, tempat, dan sosok-sosok di masa lalunya. Sembari sedikit berharap, orang-orang di masa lalu tidak mencarinya di masa depan, ia tak ingin bingung menghadapi situasi yang sama: dikepung harapan!

Ibarat kata, dimanapun biji padi terjatuh, ia toh akan tetap tumbuh menjadi padi, dengan segala cerita nasibnya sebagai pohon padi. Begitulah Syalala. Tak jauh beda dengan kisah masa lalunya, dimanapun ia berada, di situ selalu ada saja orang yang JATUH HATI PADANYA. Dan sejarah pun berulang: ia DIKEPUNG HARAPAN orang-orang di sekitarnya. Sekarang coba katakan, karena apa? Dan coba katakan aku harus bagaimana? Batinnya, mengeluh sedih. Meskipun namanya Syalala Cerya Slaluw, toh ia tetap manusia yang bisa tepontang-panting perasaannya. Tak ingin pula menyebutkan nama-nama orang yang pernah mendatanginya semasa ia dewasa, yang jika dihitung tak cukup dengan jari tangan.

Lelah dikejar pertanyaan yang sama berulang kali, pun sedih sendiri jadinya saat harus menjawab dengan jawaban yang sama berulang kali, Putri Syalala memutuskan untuk: MENIKAH. Tapi dengan siapa??? Pertanyaan mendasar. Hatinya masih mengharap Zhu Ge Liang adalah jawabannya, tapi bahkan ia dimana, dengan siapa, sedang apa, makannya apa (lhoh?!), dan seperti apa ia sekarang, Syalala tak tau. Bahkan yang paling menjadi pertanyaan Syalala adalah: apa iya Zhu Ge Liang masih ingat padanya, seingatnya mereka memang bukan teman baik, bahkan mungkin Zhu Ge tak hafal pernah punya adik kelas macam Syalala. Hikshikshiks…menangislah ia. Anomali wanita. Sekali lagi, meskipun namanya Syalala Cerya Slaluw, toh ia tetap manusia biasa yang bisa tergores perasaannya.

Setiap perasaan akan mengalami abrasi oleh waktu, begitu petuah “Uncle Ben”-nya Syalala. Hanya komitmen yang dibentengi iman dan takwa lah yang takkan tergerus, oleh ombak membadai sekalipun, insya Allah. Begitulah Syalala, ia kehilangan alasan untuk mempertahankan perasaannya pada Zhu Ge Liang, and finally, Syalala memutuskan menikah. Dengan siapa? Hahaha, dengan si tambun, sahabat setianya. Syalala Cerya Slaluw dan Agung Gedhe Tambunan. They live happily, ever after.

Anda percaya? Saya tidak! hahaha

Just like a fairy tale…
—————————– to be continued! “(^-^)\

*unlogic story, errorbrain made in… 05.08.2011

5 responses »

  1. hahahha,, lucu, lucu..

    tapi memang, hidup itu ga seindah cerita2 di negeri dongeng..
    tapi justru dengan dinamika naik turunnya itu, hidup jadi seru toh? #apasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s