a Little Story of My Little ABID

Standard

Lama ingin menulis cerita seru tentang adik bungsuku ini. Tapi saking terlalu banyaknya hal menarik yang ingin aku tulis, aku jadi malas deh menuliskannya, hahaha.

MAHFUDZ ‘ABIDUSH SHIDQI
Lahir 14 April 2004, sekarang naik kelas 2. Dia murid laki-laki terkecil, termuda, dan terpintar di kelasnya. Salah satu hal yang mengagumkan darinya adalah kecerdasan dan kesholehannya. Inilah cerita seru yang membanggakan dari tingkah Abid kecilku yang mungil.

SALAM
Abidku gemar bersalam, sejak kelas satu ini seingatku. Sedarurat apapun, setergesa, atau semarah apapun, kalau masuk rumah dia selalu salam. Tapi ya itu, intonasi salamnya tergantung mood-nya. Hahaha. Nah, lucunya, waktu dia main petak umpet sama temannya, sambil berlari ke dalam rumah untuk sembunyi dia tetap mengucap salam dengan nyaring. Lhah? Piye to…yo ketauan nho…hahaha, ngakak deh aku sama ibuk. Selain itu, meskipun dia keluar hanya untuk beberapa detik di teras rumah, saat masuk rumah akan salam lagi. Begitu seterusnya. Jadinya sering deh kita mendengar salam dari suara melengkingnya. Hahaha.

BERDOA
Abidku membiasakan dirinya untuk berdoa, dan akan mengusahakan mati-matian (lebbaayy!) untuk berdoa. Hal ini bermula sejak dia playgrup. Saat bangun tidur dan lupa belum berdoa, dia akan kembali ke kamarnya dan naik ke ranjang, lalu berdoa. Pernah saat baru hafal doa masuk rumah, dia berusaha untuk mengamalkannya. Saat itu Abid pulang sama ibuk dari belanja, sampai di depan rumah Abidku lupa gimana doa masuk rumah yang dia hafal dari sekolah, sedangkan yang dihafal ibukku doa masuk rumah dengan lafal yang berbeda. Alhasil karena masih lupa, adikku menangis gelesotan di depan pintu, tidak mau masuk kalau belum ingat doanya. Ibukku yang sudah ngeloyor masuk duluan akhirnya gemes juga dan keluar lagi.
“Lha piye to, ibuk ki apale sing iki…” tetap saja adikku ngotot dan tetap menangis nggak mau doa yang itu. Nahhh! Inilah hikmah dari menempel stiker baik (apa hubungannya cobaaa?). Syukurlah aku pernah menempel stiker PKS di pintu rumah, dan ada doa masuk rumahnya di situ.
“O…sing iki to Bid doa’ne…” ibuku melafalkan doa di stiker itu.
“Naaa…kuwi lho…” akhirnya, berhenti menangis, berdoa, dan Abid masuk rumah. Ngakak deh aku dicritain ibuk, untung enek stikermu, katanya.
Pernah juga saat kujemput dari TK, dia kebelet pipis. Sampai di depan rumah, dia cepat-cepat turun dari motor. Kukira akan langsung masuk, eh ternyata berhenti di depan pintu sambil berjingkat menahan pipis, menyempatkan membaca doa masuk rumah.

SI ALARM “Penegak Syari’at” (haha!)
Abidku ini juga suka mendikte orang. Kalau mau pergi, selalu mengabsen orang yang pergi dengannya: “Bapak sudah berdoa? Ibuk sudah berdoa? Mbak sudah berdoa?” Saat baru membuka mata, belum juga turun dari kasurnya, saat mendengar suara pintu depan dibuka, Abidku berteriak “Pak, Bapak…wes ndongo Pak?” Bapakku yang hendak berangkat shubuhan pun mengeraskan doanya sambil berkata “Yo, wes…” Pernah suatu ketika diajak pergi ke Ngawi sama bapak ibuk. Karena belum faham jalannya, berulang kali perjalanan terhenti untuk bertanya alamat ke orang. Setiap kali berhenti dan mau jalan lagi, Abid selalu mengabsen: “Buk, sudah berdoa?” begitu seterusnya sampai tiba di tempat tujuan. Sampe capek disuruh berdoa sama Abid, kata ibukku. hahaha
Abid kecilku ini seperti alarm. Saat keluar kamar mandi, diabsen: ibuk keluar pakai kaki mana, kalau salah harus diulangi lagi. Waktu pipis diceboki dua kali sama ibuk, katanya kurang sekali biar tiga kali. Gemes ya ibukku, akhirnya ditambahi dua kali. Ehhh, jadi disuruh nambahin satu kali kalau gitu, biar ganjil lima katanya. Yuh biyyuuuh… Saat cerita keunikan adikku ini ke temannya, pada heran teman ibukku. Ada yang komentar “Anake njenengan ki kok ngajak men neng surgo to Bu. Ra tlaten aku kok ngono kuwi…” wkwkwk.

KATA-KATA BERDOSA
Abidku punya klasifikasi kata-kata yang dianggap dosa olehnya, seperti: telek, endas, wedus, jangkrik, dan beberapa kata lainnya yang sebenarnya adalah kata yang wajar jika diucap dengan fungsi dan intonasi yang benar. Entah darimana asalnya dia berpikir begitu, mungkin karena pernah mendengar orang menegur itu nggak baik makanya dia menganggap itu kata-kata dosa dan tidak boleh diucap. Salah satunya aku sih yang negur teman mainnya yang mengucap kata ‘telek’ untuk memaki. Jadinya, misal saat bapakku bilang kata wedhus saat mengurusi idhul adha, dia langsung protes dan menegur: “Doso! Ndang muni astagefirhal’azim…” (saat itu logatnya membaca istighfar belum begitu jelas, dan dia selalu ngambek kalo aku goda). Begitu pula kami serumah sering kena tegur yang sama saat tidak sengaja mengucap ‘kata-kata dosa’ itu. Sampai kadang susah sendiri kami mencari padanan kata yang pas untuk menggantinya. Nahh, yang parah adalah saat Abid kecilku diajak tamasya sama rombongan sekolah ibuk. Saat makan bersama, kepala sekolah ibukku komentar tentang makanannya: “Woalah…sayure koyo e_tut!” langsung seketika itu juga Abid menudingkan jarinya ke bapak kepsek di depannya sambil berteriak: “Doso!” Alamaaak! Pak Kepsek heran, ibukku juga kaget. Abidku mana tau kepada siapa dia berkata, yang dia tau kata itu kata dosa.
“Teng nopo Bu?” tanya Pak Kepsek.
“Anu Pak, niki nek ngarani beberapa kata niku doso, kados…bla bla bla…”
Huahaahahaa, tertawalah orang-orang di meja makan. Ibukku, sungkan deh. Deuhhh…

ISTIGHFAR
Abidku tau kalau berdosa harus baca istighfar. Jadi kalau dengar atau liat orang berbuat salah dia langsung menuntut: “Ndang, bilang astaghfirullahal’adziim…” Dia sendiri juga begitu. Kalo nyadar dia salah dan takut dosa, dia langsung mengucap istighfar (kalo pas lagi mood sholeh). Pernah beberapa kali dia mengagetkanku dari belakang, dan kaget beneran aku. Merasa dirinya salah, dia langsung mengucap istighfar, meskipun sembunyi-sembunyi dan pelan, aku mendengar desisan suaranya membaca istighfar berkali-kali. Hahahahaw.

BEREBUT SURGA
Anak tetangga baru depan rumahku namanya Giska, satu tahun lebih tua dari Abid. Suatu sore hampir maghrib, ibuk memanggil Abid pulang disuruh ke mushola. Lalu terjadilah perdebatan kecil anak-anak kecil itu.
“Mas Giska ayo neng langgar.”
“Gak, aku gak neng langgar.”
“Ngko nek gak neng langgar gak masuk surga lho.”
“Oraaa…aku tetep masuk surga lho…”
“Ora, nek ora neng langgar gak mlebu surga we ngko…nek neng langgar ngko mlebu surga.”
“Iyooo, mlebu surga lhow.”
“Ora.”
“Iyo.”
“Ora.”
“Iyo.”
“Oraaaaaaa………..huwaaaaaaaa…………..” finally, Abid menangis sambil berlari pulang.
Setelah diklarifikasi oleh kedua ibu, ketemulah masalahnya: mereka berebut surga. Hahahhahay.

“ALLAHU AKBAR”
Saat awal-awal dia belajar bicara, Abid pernah terjatuh. Lucunya, saat terjungkal dia langsung berucap kata semacam “Allahuakbar!” dan berdiri lagi. Ya Allah…tertawalah kami dan memeluknya.

Begitulah lucu dan serunya Abid kecilku, meskipun tetap saja kenakalannya menggemaskan! Sudah deh, itu dulu yang mau kutulis. Bye!

10 responses »

  1. T.T anak bungsu nih, ga pernah ngerasa punya adek.. hiks..

    btw mbak mau tuker link nih ^^

    linknya mbak udah tak taro di blogku.. makasih..

  2. alhamdulillah ami darmanto dah baca lo tentang kesholehan nanda Abid.. alhamdulillah.. semoga menjadi generasi Rabbani ya nak..

    salam,

    oh ya kirim salam khusus untuk nanda Abid ya mbak Hanis.. ups awalnya ami pikir si Abid putranya mbak Hanis.. hehehe

    • Hihi.Yang paling menonjol, ibuknya ahli tahajud. suka berpanjang2 berdoa. kalau wawasan ilmu parenting..bapak ibuknya biasa aja, minim malah. tapi teladan dan pembiasaan kali ya. bapak istiqomah dan ketat untuk perkara sholat di masjid. kalau nilai2 lainnya, dia dapat dari paud islami. termasuk bocah yg nggatekne nek diwulang bu guru. jadi nyantol trus dipraktekkin pula. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s