Dilatasi Memori #Part 2

Standard

Belanja kain di sebuah toko di Malang, bersama miss Dwi. Bertemu mbak pramuniaga berjilbab, ujung jilbabnya ditutupkan ke wajah sebagai cadar (atau tepatnya pengganti masker). Setelah dibuka, eh mbaknya manis dan ramah juga, dari pembawaannya kutebak dia lebih dewasa usianya dariku.
Sekitar 15 menit mbaknya menemani kami memilah memilih kain dan belum juga sesuai…
Sambil mengobrol dan bercanda dengan mbaknya, dia bertanya padaku.
“Mbaknya anak UM bukan?” bertanya sambil senyum-senyum ramahnya.
“Iya. Kok tau mbak?” heran donk!
“Kayaknya pernah ketemu…”
“O ya? Dimana ya?” sedari tadi aku memandang mbaknya sama sekali tidak ada ingatanku tentang wajah ini.
“Mmm, mbaknya ikut Rumah Zakat ya?”
“Mmm, iya dulu pernah jadi relawan. Sampeyan juga pernah jadi relawannya?”
“Bukan…saya anak asuhnya dulu.”
“Owhhh…apa kita pernah ketemu waktu pembinaan ya?” bukannya aku ingat, tapi nebak aja, kesempatan ketemu anak asuh paling ya di acara itu.
“Iya sepertinya mbak.”
“Yang daerah mana? Bandulan?” aku ingat pernah ikut ngisi outbond sama anak-anak asuh di sana, tapi masa iya anaknya sudah segedhe dan setinggi ini. Perasaan dulu masih pada SMP.
“Bukan. Saya yang daerah…(mana gitu, saya lupa dia nyebutin apa)”
“Ohhh, ingat. Apa yang tempat pembinaannya di Ustman yah?”
“Iya, di sana…”
“Ohhh, iya-iya, ingat saya. Ya Allah, sudah segedhe ini…saya kira mbaknya lebih dewasa dari saya…”
Kubaca nametag di seragamnya: NUR’AINI. Sebenarnya aku cuma ingat bahwa aku pernah ngisi pembinaan di Utsman, bersama mentor dan mentee lain di sebuah mushola kecil di seberang sawah timurnya Utsman. Tapi tidak ingat kalau ada anak bernama Aini dulu di kelompokku. Yang kuingat cuma Ira (itupun kalau tidak salah) anak asuh kelompokku yang ketrima di ITS, ternyata kakak kelas si Aini ini. Ya Allah…anak ini masih ingat sama aku, padahal cuma sekali aku ngisi pembinaan dia (menggantikan mentor yang berhalangan). Itupun hampir tiga tahun yang lalu seingatku, saat si Aini ini masih kelas 1 SMA. Tidak menyangka, kebetulan sekali. Padahal sejak awal mbaknya ini kusangka lebih tua dariku, secara pembawaannya tampak dewasa dan tingginya melampauiku pula. Wawww, subhanallah. Takdir yang indah, kok pas tadi tu pramuniaga yang melayani kami adalah mbaknya ini. Sambil melanjutkan pencarian, kami mengobrol, ealah…ternyata dia juga kenal adik kosku yang juga KORWIL Rumah Zakat. Sesungguhnya lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” itu benar, hidup ini banyak kisah sambung menyambung-nya. Semoga ada kelanjutan cerita manis dari pertemuan kami ini, sayang kan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s