Back to be a Country Girl

Standard

1 Ramadhan 1432 Hijriyah.

Pulang kampung. Kembali menjadi gadis kampung dengan segala kendesoannya. Ini pertama kalinya sejak lima tahun menjadi mahasiswa aku merasakan hari pertama Ramadhan bersama keluarga di rumah.
Tarawih malam pertama. Kembali menemui suasana langgar seperti jaman aku masih sekolah dulu. Hanya saja serakang mushola jelek yang dulu, alhamdulillah sudah mengalami perkembangan dan sedikit expansi alias perluasan. Dan lagi, aku sedikit pangling alias kurang mengenali beberapa orang yang kutemui. Yang dulu masih bayi, sekarang sudah sekolah, yang kukira kakaknya, ternyata adiknya (lha mirip og wajahnya). Wahh, ternyata sudah lama ya aku pergi merantau, ciee…dan tidak ma’rifat pula pada tetangga, hahaha. Anak-anak kecil ramai berkumpul, bermain, berlarian, atau sekedar ikut nimbrung memenuhi mushola. Selepas tarawih, mereka duduk mengitari bangku panjang untuk tadarusan, saling menyimak bacaan Al Qur’an satu sama lain. Mereka bersemangat mengaji meskipun masih banyak bacaan yang kurang benar dan kurang lancar. Mungkin microphon adalah salah satu benda yang memikat motivasi mereka untuk mengaji, seperti aku dulu, hihihi, kayake asik gimanaaa gitu rasanya kalo ngaji lewat speaker, biasa anak kecil, heheww.
Malam ini imam tarawihnya adalah seorang akhi abihat tetanggaku (uwouwooo…). Dwuluu, bertahun-tahun lamanya, hanya Bapakku yang jadi imam mushola kecil ini, kadang sekaligus muadzin dan iqomat. Sampai sering Bapakku mengomel pada anak-anak muda tetanggaku, kapan mereka berani untuk jadi imam. Lalu, di sekitar tahun 2002…jreng jreng…hadirlah penduduk baru di RT kami: 1 abihat (dan anak istrinya) dan 2 ikhwan pegawainya di peternakan ayam. Mereka lah akhirnya yang bisa banyak diandalkan, meskipun kalau masih ada Bapakku, mereka enggan juga ngimami kalau gak ‘dipaksa’. Begitu juga dengan anak-anak muda tetanggaku, sesekali mulai berani ngimami sholat lima waktu. Kadang Bapakku melakukan sebuah strategi nelat. Kalau ditanya kenapa Bapak sengaja nelat, jawabnya: Biar mereka mau ngimami… Lucunya, dulu saat awal-awal Bapakku ‘hijrah’, tidak mau lagi pujian (mendendangkan sholawat atau lagu Jawa islami selepas azan sampai iqomat) dan membaca doa bersama sehabis sholat, banyak para jamaah terutama ibu-ibu yang protes: piye to, imam kok gak pujian, kok gak doa bersama… maka dengan entengnya Bapakku menjawab: “Lho sing gak pujian lak aku, yo monggo nek arep pujian…nek gak gelem tak imami, yo monggo cari imam lain…” Maka terdiamlah mereka yang protes, secara…tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk jadi imam, hahaha. Awalnya anak-anak kecil masih tetep pujian, tapi lama-lama males juga mereka. Dengan sesekali Bapak memberikan ceramah dan pengertian pada jama’ah mushola, alhamdulillah, sejak itu sampai sekarang, mushola kami tidak ada puji-pujian lagi dan Bapakku tetap yang jadi imamnya. Hehehehew.
Menemui suasana langgar yang riuh oleh kehadiran jama’ah sholat dan kumpulan anak-anak mengaji, Ramadhan lah momennya. Sayangnya, hal yang membuatku sangat risih dan resah dalam sholat adalah renggangnya shaf sholat! Gak tanggung-tanggung, ada yang jaraknya hampir setengah meter. Ya ampyuuun, ini mau sholat apa maen gobak sodor…???!! Dan yang baru bisa kulakukan saat itu hanya mengajak teman kanan kiriku untuk merapatkan barisan. Huffft! Inilah tantangan di masyarakat, bagaimana memahamkan mereka pada syari’at, sehingga menjalani Islam ini lebih terasa nikmat. Tinggg!! Baiklah, aku punya rencana.
Anyway, my first day was so fit and fine. Best today, for a better tomorrow.
Alhamdulillah, so grateful being me!

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s