Ayam Laos Experience

Standard

Salah satu makanan khas kota Malang adalah lalapan. Makanan ini
terdiri dari nasi putih plus lauk ayam goreng atau tempe, tahu, terong, atau telur goreng plus sambal tomat dengan aksesoris sayuran lalapan mentah seperti selada, kubis, kemangi, mentimun, atau kacang panjang mentah. Inilah makanan favorit dan terjangkau bagi mahasiswa dan anak kos di Malang, termasuk saya, yang sejak seminggu ini menu makan malamnya sama: lalapan. Kasian…? Nggaklah, bersyukur!


Nah, termasuk sore tadi aku beli lalapan ayam laos di Sumbersari, di warung depan mantan kosanku dulu. Sejak empat tahun yang lalu aku pindah dari kos itu hingga alhamdulillah betah sampai empat tahun berikutnya tinggal di kontrakanku yang sekarang (Baitul Izzah). Seingatku sejak pindah dari kosan, ini kali pertama aku beli lalapan di warung itu. Wah, ternyata masih saja sama, sama menunya, rame yang ngantri, masih sama Ibu itu dan suaminya (aku lupa namanya) yang jualan. Ibu yang aku lupa namanya itu adalah adik almarhumah Bu Kosku dulu, Bu Sofiyah. Ketika mengantri aku mengamati sekeliling rumah, hmmm, masih sama seperti dulu, rumah bercat biru itu dulu kosanku, dan masih ada Bapak (kos) juga seperti dulu, keliatan dari luar, beliau sedang duduk di ruang tamu. Hummm, aku masih sangat ingat masa-masa di kosan itu. Masa-masa aku harus selalu berjilbab rapi kecuali di dua tempat: kamar tidur dan kamar mandi, masa-masa kesepian hanya dengan 3 penghuni di kosan, masa aku tercengang punya beragam teman kos yang hena (baca: aneh, hehehe), dan juga kenangan bersama Bu Kosku yang shalehah, Bu Sofiyah. Setiap kali aku bangun tahajud tidak pernah tidak keduluan oleh beliau, selalu kudapati beliau sudah sholat malam atau bahkan sudah mengaji sampai shubuh, lalu pergi ke masjid. Selalu begitu dan selalu begitu. Aku sampai heran terkagum: “Ibu kuat sekali, jasad dan ruhiyahnya…” semoga ibu masuk surga. Allahummaghfirlahaa wa’afiihaa wa’fu’anhaa.

Ah, kupikir, ibu lalapan ini masih ingat gak ya sama aku? Nanti sajalah kusapa ibu lalapan kalau pas mau bayar. Sambil mengantri, adzan maghrib menggema dari masjid dan mushola sekitar. Seorang mbak-mbak bercelana selutut berkaos pendek di sampingku menghampiri temannya yang duduk di luar “Wah, buka!” serunya. Beberapa detik kemudian mbak itu kembali ke sebelahku sambil menenteng dan menyedot jus. Wahhh, rajin puasa mbaknya ini. Lain lagi dua mbak lainnya yang juga di sebelahku. Tampaknya mereka juga sedang berbuka seadanya dengan tempe lalapan dari bungkusan lalapannya. Wahhh, subhanallah, rajin-rajin puasa pula mbak-mbak ini. Nah aku, pas lagi gak puasa pula :(

Aha! Tiba giliranku mengambil pesanan. Sambil menunggu ibunya membungkuskan pesanan lalapanku, aku pandangi ibunya, jadi nyapa gak ya…eh, tiba-tiba ibunya memulai percakapan duluan: “Mbaknya yang dulu ngekos di sini ya?” Waaaa…ibunya masih ingat sama aku? “Oh, iya Buk. Ibuk masih ingat saya?” Surprise deh! “Iya, mbak siapa namanya…mbak Hanis ya?” Waaaa…blink-blink…subhanallah, tersanjung deh, ibunya bahkan masih ingat namaku. “Waaah, Ibuk masih ingat nama saya??? Terharu saya Buk…” Beneran deh. Bahkan aku lho lupa sapa nama ibunya itu. Lha ibunya malah yang masih ingat, padahal setelahnya banyak berganti anak kos di sana. Apakah aku dulu sangat berkesan sehingga beliau tetap ingat yaaa? Haha, lebbay! :P
Jadi ngobrol deh sama ibunya, tanya-tanya kabar kosan dan Bapak… Wah, jadinya merasa bersalah deh, lupa nama ibunya :( maaf ya Bu. Biasanya daya ingatku kuat terhadap orang yang kutemui dan kukenal. Aaaagggh, kenapa lupa ya!

Yah, sudahlah. Alhamdulillah, setiap keping kejadian kecil selalu membuatku bertafakur ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s