Ini Ceritaku, tentang Dia

Standard

Jum’at malam, 8 Juli 2011, Mbak Rike mantan mbak kosku, ngirim SMS mengejutkan. Kabar tentang meninggalnya temanku UNS yang juga teman sekelasku dulu saat MTS kelas 1. Ah, masa iya, pikirku. Bukannya aku meragukan kejujuran penyampai berita (suami Mbak Rike anak UNS), tapi khawatirnya kalau salah tangkap. Kelamaan nunggu balasan SMS, segera kutelepon Mbak Rike, memastikan beritanya valid sehingga bisa kukabarkan pada teman-teman MTSku. Ah, ya…baiklah, kuterima berita itu. Tapi masih saja antara percaya dan tidak, aku ingat-ingat lagi nama temanku, apa benar namanya Dian Tri Cahyono yaaa…? Ah, iya. Itu nama dia. Tapi masih saja aku gamang untuk menyebar berita di inbox-ku, aku SMS teman-teman MTs-ku dengan kalimat klarifikasi setengah bertanya. Dalam pikiranku, gak lucu banget aku salah jarkom hal begini. Ah, ternyata ya, benar berita itu.

Innalillahi wainna ilaihi rooji’un…

Besoknya, aku takziyah ke rumahnya bersama teman-teman MTs.

Di ruang tamu itu, kami banyak diam, tak tega banyak bertanya, sedangkan di sebelahku, sang ibu bermata sayu berwajah sendu tampak matanya masih berkaca-kaca…air mukanya tampak lelah.

Selanjutnya kami lebih banyak mendengarkan Bapak Dian bercerita tentangnya.

Lha yo, Dian itu tidak tampak seperti orang sakit, badannya dari luar tetap seperti biasa, sehat, kekar. Pulang-pulang habis ujian, sakit empat hari…

Kutanya bagaimana kronologinya Dian sakit…

Dian itu baru ujian tanggal 2 Juli kemarin mbak, bilang sama bapak ibuk sudah lulus, wisudanya tanggal 8 September nanti. (Ya Robb…tanggal itu…) Lalu pulang Sabtu kemarin, kok merasa sakit, langsung saya bawa ke rumah sakit, opname. Kata Dokter ahli paru-paru, ada semacam gumpalan diantara paru-paru dan jantungnya, menyumbat kerja jantung dan pernafasannya. Sama dokter lalu disedot dengan suntikan panjang, tapi tidak ada cairan keluar. Diperkirakan berarti itu bukan cairan, tapi benjolan daging.

Dian itu anak yang rajin ibadahnya, sholatnya bagus…rajin mengaji… Di rumah sakit, dia minta dibawakan al-qur’an, dia ngaji terus…dia ngajiiii terus sampai malam.

 *sampai di sini melelehlah air mataku :’( terbayang di benakku dia merasakan sakitnya saat itu.

Dian itu anak yang sopan, sangat santun dan taat pada orang tua. Dulu Bapak bercita-cita biar dia jadi ahli agama, masa semua kakak-kakaknya di sekolah umum semua. Makanya sama bapak ibuk, Dian disekolahkan di MI, lalu MTs, MAN. Waktu Dian bertanya mau jadi apa nanti Pak? bapak bilang sambil bercanda: “Ya, siapa tau nanti kamu jadi menteri agama, Le…” (menyipit kelopak mata bapak itu, tertawa mengenang dialog dengan anaknya)

Setelah lulus, Dian matur sama bapak “Pak, untuk sekali ini saja, saya ndak usah didikte sama bapak ibuk ya, saya pengen kuliah di umum…” Ya sebenarnya, bapak maunya dia neruskan di IAIN, tapi ya sudah nuruti kemauan anak.

Tadi malam teman-temannya juga buanyak pada datang, dari UNS, Solo. Sampai jam 12 malah belum pada pulang, cerita-cerita banyak di sini. Kata temannya, dapat salam juga dari Pak Dekannya, yang biasanya ngaji sama dia. (Oh Allah, lihatlah dia begitu dicintai…menahan air mata biar gak jatuh, kok ya susah!)

Saat kutanya pada ibunya, apa sebelumnya tidak ada tanda-tanda atau keluhan dia sakit? Kata beliau: Dian cuma sering bilang sakit di sini (sambil mengelus bagian punggung sebelah kiri beliau), terus diterapi sama kakaknya, ya baikan. Ya mungkin kerasa dia sakit, tapi tidak dirasakan…tidak bilang.

Waktu sakit Dian bilang tidak mau merepotkan bapak ibuk. Saya bilang “Yo jangan gitu Le…” (aku lupa kelanjutannya Bapaknya bilang apa…)

Ya itu…cepet sekali…Cuma 4 hari dia sakit… (ibunya menangis)

Yah, ibunya ini yang bolak balik jatuh (pingsan), bapaknya yang lebih tegar, tapi kalau ada orang nangis ya ikut nangis lagi. Yah, cepet sekali, ndak menyangka sama sekali…dipanggil sama Gusti Allah. Hari sebelumnya mbaknya tanya “Pak, dhek Dian lahirnya kapan?” saya jawab: “….” (Agak tidak dengar tanggal yang disebutkan Bapaknya) Kata Mbaknya: “Pak, Rosulullah itu hari lahir dan meninggalnya sama lho Pak…” Eh, ternyata benar, Dian meninggal hari Jum’at…yah, semoga hari yang baik, dia husnul khotimah. (Bapaknya terbata hampir menangis…)

Itu, potonya Dian waktu di mantenan mbaknya (aku mendongak ke tembok di sebelah kiri belakangku, Dian didandani ala pagar bagus bergaya gagah difoto sendirian). Sebenarnya dia malu, gak mau dipajang begitu.

Dian Tri Cahyono…

Dua tahun yang lalu seingatku, setelah lama tidak bertemu dan hampir lupa (jahat ya!) aku bertemu lagi dengan Dian, via FB…sambil mengingat-ingat Dian tu yang mana yaaa. Bersyukur punya FB, salah satunya membuatku bersuka hati mendapati teman-temanku yang lama tidak bertemu. Dian salah satunya. Whuaaah, subhanallah, rasanya penuh syukur aku mendapati perubahan baik mereka. Sempat beberapa kali saat-saat itu aku SMSan dengan Dian, ya sekedar menyambung silaturahim, tanya kabar blablabla… Selanjutnya lost kontak, sampai kami bertemu di nikahannya Tanti, Juli 2010. Ya itulah saat terakhir aku melihat Dian, bersama Sofa dan Ichsan. Meskipun kami berkumpul, aku cuek saja sama anak-anak cowok, tidak banyak bicara juga pada mereka, pun pada Dian. Cuma kami sempat berfoto bersama teman-teman MTs.

Sebenarnya aku bukan termasuk teman dekatnya waktu MTs, aku bahkan sempat lupa kalau dia ketua kelasku saat kelas satu. Tapi sejak menemui dia di FB, ada perasaan lebih dekat dengannya, mungkin karena kami sama-sama ADK tarbiyah. Aku tanya mbak Rike kemarin, katanya dia Ketum SKI Fakultas, dia jundi dakwah yang taat, kata suaminya.

Ohhh…ternyata kehilangan teman baik itu menyayat hati rasanya.

Dian, semoga nanti kita bertemu dan berteman lagi di surga-NYA. Semoga masuk kelas unggulan seperti saat kita MTs dulu ya… amiin.

*dengan penuh kebanggaan…

Allaahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu ‘anhuu…

6 responses »

  1. Innalillahi wa innaa ilaihi roji’un…
    turun mendoakan semoga Allah mengampuni hilafnya dan menerima segala amal ibadahnya…

    Allaahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu ‘anhuu

  2. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun,, Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.

    Semoga Allah membangunkan istana cahaya untuk Akh Dian, di jannah-Nya, aamiin..

  3. Kunjungan rutin ke blog ini… hehehe :)
    Saya Abed Saragih mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha

    ditunggu kunjungan dan komentar baliknya :)
    salam persahabatan :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s