Dilatasi Memori

Standard

Pernahkah kau bertemu kembali dengan orang tidak dikenal yang pernah kau sapa di masa lalu yang sama sekali tidak menyangka ternyata di masa depan dipertemukan kembali? (hoshhh!)

Akhir tahun 2009, saat PPL-ku di SMA 3 Malang hampir selesai, seorang siswiku yang paling dekat denganku, Deka namanya, bertanya:

“Bu, Bu Hanis pernah jadi panitia FRESH* yang di UM itu gak?”

“Nggak tuh dhek. Kenapa?”

“Ngggg… nggak papa. Apa pernah ikut acaranya?”

“Nggak juga, cuma pernah nonton bentar liat anak-anak SMA pesertanya. Waktu itu anak SMANTI pada ikut juga kan?”

“Iya, saya juga ikut. Trus saya jadi ingat waktu itu ada mbak-mbak mahasiswa yang mendekati saya terus ngobrol-ngobrol. Katanya mbaknya nanti akan PPL di SMA 3. Mmm…bener gak ya? Apa itu Ibu ya?” gadis berjilbab di depanku semacam berekspresi antara iya dan tidak: ‘apa iya yaaa?’.

Surprisingly, fully I smiled. “Ohhh! Iya. Itu saya. Apa anak yang kutanya itu kamu ta dhek?” Histeris! Tanpa perlu waktu lama, ingatanku secepat mungkin membongkar memori beberapa tahun lalu saat aku mau sholat di masjid Al Hikmah UM, lantas berhenti sejenak menghampiri salah satu siswi berjilbab berseragam batik SMANTI yang sedang duduk bersama teman-temannya di beranda masjid.

“Iya Bu, itu sayyaaa!” tak kalah surprise, kami akhirnya tertawa plus terheran-heran.

Yang membuat kami heran adalah: kok kebetulan banget gitu, Deka tiba-tiba ingat kejadian itu, dan aku juga tidak lupa bahkan masih terbayang detailnya. Dan lagi kami sama-sama heran, karena tidak menyangka orang tidak dikenal di masa lalu beberapa tahun silam, ternyata berjodoh menjadi kawan dekat seperti kami. Ya Robb, mana kutahu ternyata anak manis yang kusapa saat itu adalah muridku ini, yang sejak pertama melihatnya di bangku paling depan di kelas, aku jatuh hati pada senyumnya. Berlanjut hari pun, anak ini selalu dekat denganku, salah satu konseli yang masalahnya cukup menantang hingga membuatku dapat apresiasi dari dosen pembimbing PPL saat mencuplik masalahnya dalam tugas verbatimku: ‘Mau saya tunjukkan nanti di acara saya, begini nih baru yang namanya verbatim REBT’ kata beliau dengan gaya sokyes-nya yang menggemaskan sambil menenteng jilidan verbatimku. Hehehe (peace, Bu!).

Kejadian unik kedua. Terjadi kemarin Senin, saat aku ikutan SAMBA* di Sasana Budaya UM. Yieee…alhamdulillah aku senang sekali akhirnya masih sempat ikut nimbrung SAMBA, setelah beberapa momen ku lewatkan karena pekerjaan. Karena mungkin ini kesempatan terakhirku sebelum lulus, dan akan sangat merindukannya. Seperti biasa, dakwah fardiyah adalah kegiatan utama di sini. Nah, yang subhanallah adalah saat aku mengobrol dengan salah satu ibu yang menunggu anaknya, eeeehhh, melintas di depan kami seorang bapak ikhwan yang ngikhwani banget (tampak alim banget maksudnya) dan seorang gadis (anaknya pasti, mirip soalnya) bergaun ijo-ijo. Sepintas kulihat si anak, kayak siapa ya…? Serasa pernah liat, tapi entah kapan dan dimana. Beberapa menit mereka menghilang dari pandanganku paling juga wira-wiri urus registrasi. Yah, sudahlah, kalau rezeki, ntar lak aku diberi kesempatan untuk kenalan.

Eh, subhanallah beneran. Entah sejak kapan bapaknya duduk di kursi depanku (beliau di baris pertama, aku di baris ketiga), aku baru sadar saat dhek Avin memberiku sinyal bahwa ada bapak itu di depanku. Owh, baiklah, waiting for a right moment to start a chat!

Duh, maaf ya. Sepertinya si penulis ini sedang mikirin sesuatu di otaknya, jadinya nulisnya lola dan mbulet begini. —-____—-!

Singkat cerita, kami berkenalan dan mengobrol banyak hal, dengan banyak ekspresi subhanallah dariku atas cerita mengagumkan dari bapaknya. Dan inilah salah satu jawaban bapaknya saat kutanya:

“Bla, bla, bla…nama saya Eko, jurusan Teknik. Anak saya, Qonita. Bla, bla, bla…Saya wisuda S2 tahun lalu, 2010.” Dasar aku dibekali otak yang asosiatif dan sangat kuat mengingat, aku langsung mengaitkan beberapa item subyek: wisuda 2010, S2, Qonita (anaknya si bapak)…yang kuingat, saat wisuda 2010 kemarin aku juga hadir menyambut teman-temanku yang juga diwisuda. Yang kuingat lagi, saat itu kerjaan utamaku adalah poto-poto sama Antis dkk di dekat gedung wisuda, dimana di situ aku bertemu dengan seorang ummahat bercadar dengan anak gadisnya kira-kira usia SMA dan adiknya, dan tetap innocent saja poto-poto di depan beliau. Sampai-sampai saat pulang ke kos dan liat hasil jepretan kami, eh…umi bercadar dan putrinya yang besar tak sengaja keikut jadi background beberapa poto kami. Hehew. Seperti biasa aku sering penasaran sama wanita bercadar orang sholeh, saat itu aku sempat tersenyum pada si ummi dan beliau menggangguk sembari tersenyum (keliatan dari matanya, ehhe). Dan dasar aku orang yang suka berteman dan berkenalan, aku gak bisa diem kalau tertarik pada seseorang, mesti kusapa atau kutanyai. Saat itu aku bertanya pada si adik akhwat anaknya si ummahat:

“Anterin siapa dhek?”

“Abi…”

“Oh. S2 ya?”

“Iya.”

“Oh. Namanya siapa abinya?” saat itu aku berharap aku familiar dengan nama yang disebut, siapa tau ternyata abinya adalah salah satu ADK (aktivis dakwah kampus) yang kukenal, hehehe.

“Pak Eko.”

“Oh…………………………….” (Btw, garing ya ni obrolan…tapi aku tidak menyesal pernah bertanya ini)

Trrrttttt….trrrrrtttt…………………………….membongkar memori.

Ahha! Tampak cemerlang ingatanku. Plus pikiran asosiatifku membuatku memberanikan diri bertanya pada Pak Eko yang masih ada di depanku.

“Bapak dulu waktu wisuda sekeluarga ikut Pak?” mancing.

“Iya, ikut semua, istri, anak-anak…”

“Oh…waktu wisuda 2010 saya juga hadir menemani teman saya tuh Pak. Jangan-jangan keluarga Bapak yang waktu itu saya temui. Mmm…maaf Pak, istrinya Bapak pake cadar?” nyengir, takut salah tanya, hehehe.

“Iya.” Mantap jawabannya!

Subhanallah… “Ohhh! Jadi benar Pak, orang yang saya temui waktu itu istrinya Bapak, dan putrinya Bapak, Qonita ini. Pantas saya sepintas seperti pernah melihat Qonita…tapi entah dimana gitu…”

“Oh ya??? Subhanallah, dipertemukan lagi.” Bapaknya surprise juga. Aku apalagi!

“Iya Pak, tidak menyangka sekarang saya ketemu sama Bapak. Saya ingat waktu itu saya tanya Qonita, nama Abinya Pak Eko… bahkan ummi dan Qonita keikut di poto kami, masih ada saya simpan.”

Oh…ohh…ohhh…

Hohohow, masih dengan penuh ketakjuban akan skenario Allah, aku menulis ini. Allahu Akbar! Aku bersyukur aku ingat salah satu wasiat Hasan Al Banna:

“Berkenalanlah dengan saudara dan teman yang anda jumpai meskipun anda tidak diminta memperkenalkan diri sebab dasar dakwah kita adalah kasih sayang dan persaudaraan”

Jadi ada alasan yang menguatkan saat aku narsis innocent sokyes memperkenalkan diri pada orang yang bahkan tidak bertanya: kamu siapa? Atau juga sokyes SKSD berkenalan dengan orang baru dimanapun kutemui. Hehehehehe. Karena apa? Karena insya Allah itu baik bagimu. Merajut ukhuwah dengan sesama muslim itu menyenangkan kok.

Nice to see you! ;)

*FRESH: Festival Remaja Sholeh

*SAMBA: sambut mahasiswa baru

5 responses »

  1. wah2…luar biasa..
    ana biasa pake strategi itu wktu dagang&promo produk…coba antum praktekkan bwt bisnis jg…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s