Road to Situbondo

Standard

Benarlah bahwa kalau ingin mengenali saudaramu, maka hendaklah salah satunya kamu pernah beperjalanan dengannya. Dari perjalanan kita mengenali karakter teman seperjalanan kita. Ada yang setia memberikan arahan dan memperhatikan teman perjalanan, ada yang suka meninggalkan rombongan, ada yang suka ngilang, yang suka nelat, yang rewel gini gitu, yang suka ngomel, yang mengeluh kena asap dan macet, atau yang suka bikin atraksi maut di jalanan. Huuuft! –___-!! Penundaan keberangkatan di awal perjalanan saja telah sukses membuatku manyun optimum.

Hari minggu dan senin kemarin adalah atraksi motoran paling nekat yang pernah kulakukan. Motoran ke Situbondo, mau ke nikahannya ukhti Ani. Ikhwan-ikhwan gila-gilaan naik motor, kebut-kebutan, menyalip sembarangan, nerabas dan belok-belok gak karuan. Ya Robb…geregetan. Ingat gak sih ni lagi rombongan sama akhwattt???!!! Syukurlah aku bisa mengimbangi, meski ngos-ngosan juga ngikutin mereka. Tapi lama-lama, capek juga ngikutin gaya ikhwan. Sampai pada salah satu saat di perjalanan pulang, aku mau ikut menyalip bus besar dan panjang. Sudah hampir mencapai setengah badan bus ya aku menyalipnya, eeee…si bus gendhut pake acara menyalip kendaraan di depannya pula. Jadilah aku semacam dipepetin ke kanan sama si bus. Otakku langsung berpikir cepat: mau ngerem ndadak, belakang ada kendaraan, mau terus nyalip tapi sepertinya aku akan semakin mepet ke kanan atau malah diserempet bus gendhut ini. Hah, daripada aku dijatuhkan sama si bus, aku menjatuhkan diri saja ke ruas jalan sebelah kanan. Jadilah aku terlempar dari aspal. Haaaah. Gak mbois.

Gosipnya sih 3 jam perjalanan motoran ke Situbondo, maka karena itulah aku mau mencoba ikut motoran. Eee lhadalah…nyatanya hampir 7 jam kami beperjalanan. Itu sih teorinya 3 jam. Mungkin benar bisa 3 jam dengan catatan: ditempuh dengan kecepatan ekstra plus tidak dengan rombongan rewel seperti kami. Eyel-eyelan, bertengkar kecil, saling sebal, yah biasalah. Begitulah kalau amal jama’i, selalu butuh pengorbanan untuk saling bersabar pada saudara. Jadilah kami berdelapan (4 ikhwan dan 4 akhwat) sampai di rumah pengantin tengah malam, 23.30. Aku merasa seperti sampai di pasar malam, hehehe. Meski nguantuk, capek, tapi ikut sumringah ngeliat wajah cerah ukhti Ani si calon pengantin ;)

Besoknya kami pulang sebelum dhuhur, lebih santai dan sempat mampir-mampir, meskipun tetap adaaa saja kesebalan pada teman. Hahaha. Biarlah, kapan lagi punya pengalaman begini.

Anyway, it’s exciting! Alhamdulillah, kami selamat dan bahagia… ;)

4 responses »

  1. Pingback: Tips Traveling By Motorcycle « haniself, daily story…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s