Mimpi

Standard

Ada suatu saat di waktu-waktu kemarin, aku sangat berharap mengingat mimpi tidurku. Tapi hena (baca terbalik: aneh) bener, sama sekali aku tidak bisa ingat apa mimpiku. Blas, meskipun kuputar otak untuk mengingat apa yang terjadi di alam bawah sadarku saat tidur. Aku hanya ingat aku baru saja bermimpi, tanpa sama sekali ingat apa yang kuimpikan. Sama sekali, sedikitpun! Yang kuingat hanya bahwa aku bermimpi. Sampai pernah di suatu saat di kala itu, sebelum tidur aku menyiapkan diri untuk menangkap isi mimpiku biar ketika bangun aku ingat, kemudian aku juga berniat dan berharap, “Ya Allah, kalau aku mimpi aku ingin ingat apa mimpiku nanti…” Hehehe, konyol memang. Tapi memang aku tidak paham terhadap aktivitas alam bawah sadar manusia satu itu: mimpi! Kenapa kadang kita sama sekali kehilangan memori mimpi yang baru saja beberapa detik yang lalu kita alami.

Beberapa hari ini, aku punya cerita unik tentang mimpi. Di suatu pagi di hari minggu yang dingin di kota Malang, seorang gadis yaitu aku, menelepon ibuk, kangen mendengar suara Abid yang nyaring, kangen mendengar cerita-ceritanya, dan kangen lain-lainnya di rumah. Selain itu, aku memang sudah menyisipkan satu niat penting menelepon ibuk.

Nah, dari sinilah cerita unik tentang mimpi bermula. Sebelum sempat aku bercerita dan bertanya ke ibuk, ibuk terlebih dulu bercerita bahwa beliau memimpikan sesuatu tentangku. Beliau bilang, sudah lama tidak mimpi, dan semalam memimpikan tentangku dengan sangat jelas, sangat tergambar jalan cerita dalam mimpi ibuk. Yang subhanallah membuatku bertasbih terheran, ibukku bermimpi persis seperti yang mau aku omongkan ke ibuk pagi itu. Jadi semacam aku gak jadi ngomong dan menanyakan, karena sudah dapat jawaban terlebih dulu dari ibukku. Tapi tetep saja sich aku cerita ke ibuk, dan kami jadi terheran dan tertawa-tawa, kok bisa ya…

Ibukku itu, subhanallah… Masih ingat dulu juga terjadi hal serupa, sebelum pengumuman SPMB tahun 2006, ibuk memimpikan tentangku juga. Memang sich tidak selalu mimpi patut dipercaya, tapi untuk sebagian orang beriman lagi shalih shalihah, mungkin Allah memberikan kelebihan dengan terkadang memberikan ilham lewat mimpi. Kalau kata Rosulullah dalam sebuah hadits, “Mimpi itu 1/46 dari kenabian” (shahih Muslim, dari Anas Bin Malik). Maka, kadangkala mimpi itu ada benarnya sebagai hidayah, ketika dia datangnya dari Allah subhanahu wata’ala.

Cerita unik kedua tentang mimpi. Masa ya, beberapa waktu lalu ada orang bilang dia memimpikanku. Sayangnya dia lupa ngapain aku di mimpinya, tapi katanya: “Yang pasti seneng, gak biasa bisa ingat malam itu mimpi apa, dan semuanya terasa lebih dekat :-)” Hahaha…lucunya anak ini. Anyway, tetaplah, wallahua’lam…

2 responses »

  1. aku sering banget mimpiin orang yang hatiku tertaut padanya,jiaaahhhh…
    95% benar, dan itu pati sebelum hal itu tjd, malah sesuatu yg g pnah dceritakannya padaku,..dan aku memimpikan itu semua…
    hmmm,.. mgkn kedekatan hati jg mempengaruhi, satu gelombang gt kali ya..
    ibuku dlu jg pnah mimpi dan tjd padaku.
    subhanallah, wallahu a’lambishshowaab :mrgreen:

    • iya betul. mungkin salah satu tips-nya adalah doa robithah.

      mmm, btw, pernah mimpiin aku gak ki…? hehe.

      iya, ibu itu memang subhanallah. itulah kenapa salah satu jargonku: I always wanna be like my mom, a mother who can inspire her children to say ‘I wanna be like my mom’
      ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s