Kisah si Roker

Standard

Beberapa teman menjulukiku ‘roker’, dan aku suka kata itu. Aku lupa kapan tepatnya aku mulai menjadi roker. Sepertinya sejak SD deh aku menyukai pakaian itu. Jaman-jaman rajin mengaji ke TPA, aku ingat punya beberapa rok favorit yang dijahitkan oleh ibuk (penjahitnya bulikku). Salah satunya masih ada dan kusimpan sampai sekarang, warna nge-pinkkk ngejrenggg! Kadang saat kupakai naik sepeda ontel, rokku kotor kena gemuk (bahasa Jawa-nya oli) jadi item-item di ujung bawahnya. Huwww, anak kecil, suka sembarangan.

Saat MTs, terbiasa pula pakai rok panjang seragam yang seringkali menambah berat kayuhan sepeda saat melawan arus angin di siang hari pulang sekolah. Seru juga kalo diingat-ingat. Saat usiaku masa itu, tepatnya kelas 3 MTs, aku mulai menemukan identifikasi diri, ingin berpenampilan seperti Bu Siti, ummahat muda tetangga baru deket rumah. Maka, mulailah aku membiasakan diri pakai-pakai rok, meskipun saat barengan sama teman-teman MTs, teteup…lebih sering pakai celana laaah. Hehehe. Masih ingat saat aku mau pergi les Bahasa Inggris, bapak mengomentariku waktu mau berangkat, “Masa anak perempuan pakai celana, Nduk…” bernada rendah sich kata-kata Bapak. Tapi kemudian ibuk nambahin, “Gakpapa, yang penting bajunya panjang.” Terkesan membela sich, tapi kemudian aku mikir ‘apa bajuku ni kurang panjang ya’. Hallah wes, demi ketenangan batin aku berbalik dan ganti rok deh. Entah ya, perlu disyukuri ini, bapakku itu lebih suka anak perempuannya feminin. Perempuan ya tampil dengan penampilan perempuan. Sampai-sampai bapak selalu mengomel kalau tahu aku bonceng motor dengan gaya cowok. Sama halnya dengan pakai celana, kurang sopan kesannya. Tapi dasar aku usil, kadang tak siasati. Waktu nebeng temenku, mulanya aku bonceng cowok, ntar kalau dah deket rumah, ganti bonceng model cewek. Hehehehehe.

Saat SMA, pada prinsipnya, aku lebih senang dan ingin terus pakai rok, meskipun beberapa kali masih juga pakai celana donk. Selain lebih layak untuk tidak menampakkan aurat, entah ya aku suka saja pakai rok. Nyaman. Maka saat ada acara-acara non akademis atau di luar jam sekolah, aku tetep pilih pakai rok. Nah, lucunya, di suatu malam saat aku masih kelas 1, sekolahku mengadakan agenda iseng-yang di kemudian hari aku sadar bahwa itu ‘gak penting deh…ngapain juga aku datang’- bertajuk “Aishiteru”. Mirip-mirip acara “Katakan Cinta” di TV tu. Malam itu aku pakai rok. Eh, ada temenku nyeletuk, “Ih Hanis kok pakai rok sich.” Kira-kira begitu katanya, dengan nada heran rada menghina (nggak, nggak, becanda!). Nyengir adalah pilihan ekspresiku saat itu, sembari berpikir dalam nyaliku yang sedikit kendur, “Emang salah ya acara beginian pakai rok??? Emang ada aturannya???” Terlanjur aku merasa ‘apa iya aku salah kostum’, maka selanjutnya aku berjalan sambil mengamati para hadirin siswa-siswi di situ. Iya sich, pada mbois tuch siswi-siswi, terlihat semuanya pakai celana. But, owh, that’s it! Ada kakak kelas terkenal yang pakai rok juga. Ahha! Aku tidak sendiri. Iya sich, roknya si mbak itu lebih gaul dan tampak pantas untuk acara beginian, tapi sutra lah yang penting sama-sama roknya. Finally, kira-kira meningkat hingga 95 % lah nyaliku untuk kembali PeDhe dengan rokku. Hehehe.

Masih saat kelas 1 SMA. Bahkan dalam aktivitas yang atraktif pun, aku tetap memilih pakai rok. Pernah saat TA (Tafakur Alam) bareng teman-teman dan kakak-kakak SKI, aku maksa pula pakai rok mendaki bukit di Ngawi. Ada beberapa teman yang nyengir pertanda heran, masa mau menempuh medan terjal pakai rok??? Ah, tapi saat itu aku lebih PeDhe, karena mbak-mbak SKI juga banyak yang pakai rok (surroundings support, hehe). Dan terbukti, alhamdulillah selamat saja, meski beberapa kali rok lebarku nyangkut rerantingan (haha, saltum gw pake rok kelebaran). Nah, rokku kesayangan berwarna merah maroon ini berakhir sudah riwayatnya saat suatu hari aku bersama adikku yang sedang dibonceng ibuk terjatuh dari motor. Karena apa? Yak! Rokku nyangkut di jeruji roda. Robek dan berlubang-lubang deh dia :( Parahnya, ibuku saat itu sedang hamil adikku yang bungsu. Hikshikshiksssss! Alhamdulillah, tidak ada luka-luka dan semua baik-baik saja. Dan aku tetep tidak kapok pakai rok :D

Lain lagi saat hari olahraga: sabtu, badminton! Mau gak mau ya harus pakai celana olahraga. Tapi teteup, berangkat dan pulangnya dari lokasi badminton aku ganti pakai rok seragam, hehe. Tau ya, malu aku.

Selebihnya, saat-saat SMA itulah masa-masa membiasakan dan mempertahankan diri dengan prinsip yang kumengerti. Kadang ada perasaan ‘kok aku beda sendiri ya’ atau ‘pantes gak sich’ saat aku ngeyel tetep pakai rok dalam berbagai sikon. Karena tidak banyak teman yang sepertiku, di sekolahku. Huhuhu. Ah, tapi saat itu aku selalu menguatkan diri sendiri, this is my way and I wanna be like this, coz I love it. That’s all!



Next, alhamdulillah, sampai detik ini aku masih istiqomah menjadi roker (hehehe!). Masa-masa kuliah adalah masa pendewasaan. Pemantapan diri dengan segala prinsip yang kumengerti. Penguatan atas berbagai pilihan yang kuputuskan. Tidak ada lagi perasaan ‘aneh or asing’ saat berkumpul dengan teman-teman yang berpenampilan beda. Dalam sikon apapun di luaran, alhamdulillah aku masih selalu bisa beraktivitas dengan lincah dan atraktif (bahasa manisnya pencilakan), dengan mengenakan rok. Alhamdulillah, tanpa menjadi kendala yang berarti. Hingga hal paling iseng yang pernah kulakukan adalah: nyobain wall climbing di Jatim park (hehe, pas sepi dan gak lama kok, karena jatuh mulu). And finally, inilah aku si roker. 100% I’m confident with my style. Wherever I am, whatever they say, I love my skirt. Titik.

3 responses »

  1. Pingback: Cerita nge-ROCK!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s