“Karena Menulis Itu Memperpanjang Umur”

Standard

Senin, 18 April 2011

ALHAMDULILLAH. Happy ending ternyata, mengikuti ajakan Irna Natsir ikut bedah buku “Ranah 3 Warna”. Meskipun aku belum baca novel itu, pun masih mengantri pinjam baca trilogi pertamanya “Negeri 5 Menara”, tapi aku suka acara gratisan, hehehe. Jadilah kami bertiga: aku, Irna, dan Fidya menjadi saksi atas sebuah peristiwa yang menggugah hati. Begini ceritanya, teman-teman.

Mmm…dimulai dari cerita yang kurang penting, bahwa aku datang ke acara itu sambil membawa Kautsar laptopku, dengan satu niatan tersembunyi: mau nyambi ngetik ntar di acara, hehehe. Lumayan memanfaatkan sela-sela waktu menghasilkan kalimat-kalimat yang akan mengakhiri tugas wajibku! Hahaha. Benar saja, pada sesi pertama acara, dimana kami bertiga sebenarnya telah terlambat, aku mulai bosan dengan tema perbincangan yang pertama (tepatnya gak faham, jadi bosan dweh) tentang ekonomi, bisnis tah apa gitu. Maka, mulailah aku mengeluarkan Kautsar dan mengetik :’D sambil tetap mendengarkan lah…aku kan auditif orangnya.

Lantas usailah pembicara pertama, berlanjut sang moderator memanggil satu nama terkenal: Ahmad Fuadi. Keterkesanan pertama: dari arah belakang peserta bahkan sudah terdengar salamnya “Assalamu’alaikum…” sembari berjalan perlahan menuju ke depan. Waww… dan tampillah di depan kami seorang laki-laki yang tampak masih berusia dua limaan padahal ternyata usianya hampir kepala empat, berkulit putih, berpostur sedang, mengenakan jeans abu-abu dan kemeja kotak-kotak senada warnanya. Sekilas pertama melihat, aku ingat teman sekelasku waktu SMA, Riza Rahardian, hehehe. Berkacamata pula. Mirip Riza wes… (selamat yo Za, mirip orang hebat! :’D).

Keterkesanan selanjutnya sungguh berlipat-lipat dan terlalu panjang kutuliskan di sini. Yang jelas, menyentak rasanya bagi orang-orang yang masih tetap menjadi biasa saja, tanpa ada hal istimewa yang bernilai luar biasa (seperti aku contohnya). Asal tahu saja, uniknya Pak Fuadi ini, beliau punya gaya bicara yang sederhana menurutku. Gaya bicaranya tidak gegap gempita seperti para trainer motivasi (meskipun beliau trainer juga ternyata) yang biasanya berbicara dengan suara lantang dan ekspresi gestur yang menggebu-gebu. Beliau bicara dengan nada dan gaya bicara yang sederhana, perlahan, tenang, runtut, sistematis (gaya wartawan banget deh), tidak banyak ekspresi dan gerakan nonverbal selain senyuman yang jarang berhenti, diselingi humor-humor sederhana tapi menarik (Stop! BTW, aku kok jadi Gestalt banget ya, memperhatikan keseluruhan), tapi subhanallah, sungguh mengena setiap kalimat yang beliau ceritakan. Mungkin salah satu sebabnya karena memang yang beliau sampaikan adalah kisah nyata yang benar-benar pernah dirasa dan dialami, sehingga seolah ruhnya pun mudah kami rasakan. Kisahnya seperti hidup dan kami serasa ikut merasakannya. Hmm, belajar lagi: beginilah kalau ruh sudah dipunyai, tak perlu kebanyakan gaya, dengan bahasa sederhana pun mampu menyentuh pendengarnya.

Saat beliau mulai bercerita, gantilah aku tutup page kerjaanku dan membuka blank page untuk mengetik kalimat-kalimat wonderful-nya Pak Fuadi. Hehehe…. Eh ya, tampang beliau ini gak ikhwan-ikhwan banget, tapi pemikiran dan referensi utamanya Islam selalu. Subhanallah… Salut deh! Pada kesempatan ini Bapak keren ini bukan mengupas isi buku, tapi lebih pada menularkan semangatnya untuk: bermimpi, bersungguh-sungguh, dan menulis (heee…gak pake ‘ber’). Dan aku sedang ingin membagi inspirasi keren tentang menulis saja di sini :p

Beberapa hikmah yang sempat kurekam dalam tulisan dan ingatan adalah:

  1. “Menulislah. Karena menulis itu memperpanjang umur” begitu kata ustadz-nya Pak Fuadi saat di Gontor dulu. Dan kalimat itulah yang memunculkan motivasi luar biasa bagi beliau untuk menulis. Manusia pasti mati dan dikubur, tapi tidak akan dikubur buku-buku karyanya. Jika dengan tulisannya dia meninggalkan ilmu dan manfaatnya dirasakan oleh banyak orang, maka insya Allah akan menjadi amal jariyah yang pahalanya tetap mengalir meskipun si penulisnya telah tiada. Maka aku jadi ingat kata-kata Salim A. Fillah bahwa tujuan utama beliau menulis adalah satu saja: BEST SELLER! Tampaknya bernada profit banget ya? Tapi sungguh pun jika kita maknai lebih dalam, benar lah apa yang beliau jelaskan, bahwa dengan best seller-nya tulisan-tulisan beliau, maka manfaat kebaikan itu semakin meluas, meluas, meluas, dan menjadi amal jariyah ketika bisa menjadi petunjuk bagi banyak orang yang membaca tulisannya. Kira-kira begitulah yang kuingat. Serupa dengan kalimat ustadz-nya Pak Fuadi, Asma Nadia pernah berujar kalimat yang sama tentang salah satu alasan mengapa perlu menulis banyak hal tentang banyak episode kehidupannya. Agar kelak jika mungkin tidak bisa lama umurnya membersamai anak-anaknya, mereka tetap bisa belajar banyak hal dari ibundanya, dari tulisannya. Sip! Benar betul!
  1. Tulisan yang baik itu, adalah tulisan yang membawa kebaikan dan menolak keburukan. Humm, ini bahasa Al Qur’an yang sudah sangat terkenal: amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Tulisan yang baik itu, yang ditulis dengan hati. Bukan berarti ngetiknya gak boleh pakai jari, tapi maksudnya bahwa tulisan itu tersampai dari suara sanubari hati paling dalam, kemudian diterjemahkan oleh otak dengan merangkai kata hingga menggerakkan syaraf motorik jemari kita untuk menata huruf demi huruf menjadi tulisan yang mempunyai ruh. Jika dalam tulisan itu terdiri dari huruf, kata, tanda baca, spasi, dan lain-lainnya, maka ruh tulisan itu…ada diantara itu semua. Ruh itu…tak tampak tapi terasa. Yang insya Allah akan sampai pula pada hati pembaca.

Lalu bagaimana memulai proses menulis yang baik dan mengandung ruh kebaikan?

  1. Luruskan dan jelaskan niat: why? Ngapain nulis ini? Kenapa perlu nulis itu? mulailah dengan alasan, karena ia adalah sebagai suntikan stamina, penjaga semangat kita. Begitu kita tahu alasannya, dia akan menguatkan perbuatan kita. Misalnya, alasan utama menulis adalah meniatkannya sebagai bentuk ibadah, semangat ibadah itulah yang akan selalu menjaga stamina kita saat menulis.
  2. Find your ‘what’. Menulis tentang sesuatu yang kita care terhadapnya, yang kita peduli dan fahami bisa menjadi obat kuat isi tulisan.
  3. Konsisten: how? Boleh lah ikuti pepatah: sedikit-sedikit lama-lama menjadi bu…ku! (bukitnya minggir dulu, hehe)
  4. Cari referensi dan visualisasi yang memadai. This is the tools to anticipate writer’s block. Maka, kadang foto menjadi salah satu benda penting untuk mengaktifkan kembali memori masa lalu sebagai visualisasi emosi dan peristiwa yang dulu kita alami. Selain itu, bisa juga kembali membuka-buka buku curhat untuk menghidupkan ingatan pengalaman yang pernah kita alami. Kira-kira, benda-benda itu mengingatkan kita: begitulah perasaan hati kita saat itu. Waaa…pas banget ini sepertiku, salah satu alasanku suka berfoto dan menulis adalah: to recognizing our stated of emotions, to feel how was the past alive, how did I live my past life… (skripsiku…I love you).

Entah tulisan saya ini termasuk kategori tulisan yang baik atau bukan, hanya saja saya senang menuliskannya untuk berbagi. Semoga ada yang bermanfaat. Hadanallahu waiyyakum ajma’in…karena hidayah-lah yang sebenarnya selalu kita minta berulang kali dalam sehari pada Allah subhanahu wata’ala. Maka jangan segan belajar dari banyak hal, seringkali itu mengantarkan kepingan hidayah dari Allah yang semakin menyadarkan jiwa.


Konklusi: mari menulis! (dan berfoto juga lah :’D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s