Dramatically “Bee Circle”

Standard

9 April 2011

Sabtu sore.

Malang yang mendung. Beberapa hari ini cuaca di Malang membuat jemuran tidak kering bahkan sampai dua hari. Biyuh…


Hujan, adalah makhluk Allah yang seringkali membuat suasana menjadi lebih dramatis. Makanya kalau di film-film gitu, seringkali ditambahi rain effect sebagai bentuk dramatisir dari adegan yang sedang diperankan, biasanya kalau bukan adegan menangis ya adegan romantis.

Pun demikian sore ini. “Bee Circle” hari ini menjadi sebuah inspirasi sore yang dramatis dengan tambahan hadirnya hujan menderas. Baru di pertemuan sebelumnya aku bercerita pada mereka dengan gegap gempita tentang mengapa lingkaran halaqoh ini perlu diprioritaskan. Karena inilah salah satu kekuatan dakwah kita yang tidak bisa diganggu gugat, karena inilah markas dakwah kita yang tidak bisa dibubarkan. Ada atau tidak ada lembaga dakwah, kita masih tetap bisa halaqoh, pagi siang sore atau malam kita masih bisa bertemu dan beraktivitas dalam halaqoh ini. Keberadaan halaqoh ini tidak banyak tergantung pada faktor luar yang menjadi penentu eksisnya, tapi masing-masing kita lah (dengan izin dan rahmat Allah subhanahu wata’ala) faktor utama istiqomah atau tidaknya halaqoh ini.

Baru di pertemuan sebelumnya aku bertutur pada mereka tentang cerita-cerita mengesankan para asatidz pemula dakwah zaman dulu. Salah satunya aku cerita sebuah pengalaman yang membuatku bertasbih terkesan, saat di suatu acara Ustadz Ja’far bercerita ketika awal-awal di Malang duluuu, beliau memegang halaqoh sampai 12 kelompok, dengan 5 kelompok diantaranya adalah halaqoh akhwat (subhanallah!), saking terbatasnya SDM murobbi akhwat kala itu. Baru kemarin pertemuan sebelumnya aku bercerita pada mereka tentang ustadz tersebut yang untuk halaqoh saja perlu menempuh jarak yang luar biasa: Malang-Solo, dengan uang tidak lebih dari 4000 rupiah naik kereta setiap dua pekan sekali, untuk halaqoh! Kegigihan yang luar biasa. Dan memang selanjutnya, dari unit terkecil tarbiyah inilah (halaqoh) di kemudian hari banyak hal besar bermula, banyak aktivitas masif berkembang. Dari halaqoh.

Di pertemuan sebelumnya aku bercerita kisah dramatis itu, dan ternyata sore ini aku mendapati suatu hal yang tak sama tapi serupa. Di tengah hujan yang menderas disertai terpaan angin menderu, aku terkesan melihat dua orang adikku yang ternyata sudah mendahuluiku datang, duduk manis di gazebo favorit kami. Mulanya kupikir jika belum ada yang datang, aku tunda saja pertemuan hari ini, kasian mereka hujan-hujan begini harus basah kuyup jalan ke kampus, dan aku sendiri sudah basah pula terguyur rahmat Allah itu sejak perjalanan dari Dinoyo. Setelah sampai di gazebo, Ya Robb…gazebo pun kebasahan terpercik air hujan dan jelas tampang dua gadis ini mengirim pesan kedinginan, menelungkupkan masing-masing jaketnya erat-erat. Duh Ya Allah, melihat wajah-wajah mereka, jadi kasiaaan. Yang lebih subhanallah lagi, beberapa menit setelah aku duduk, terlihat dua orang lain tengah berjalan berpayungan, berjalan menuju gazebo untuk bersama kami. Aku sich mending tadi motoran meskipun tetap saja mantel yang kupakai saat dibonceng tak cukup menghalau sapaan hujan. Wonderful-nya lagi, di gazebo pun tak lepas dari terpaan angin dan hujan. Sedikit demi sedikit air memercik hingga ke mushaf yang kami baca, sampai semakin lama membasahi tempat duduk kami. Deru angin, deras hujan, gemuruh petir dan guntur menemani hingga akhir kebersamaan kami. Meski tak lengkap dengan kehadiran beberapa orang lainnya yang sedang mudik, cerita sore ini cukup membuat kami punya pengalaman seru dan dramatis: halaqoh di bawah guyuran rahmat Allah (hujan!).


Belum selesai sampai “Bee Circle” kisah dramatis tentang hujan sore ini. Sepulangnya, aku masih melihat dan melewati kerumunan banyak ikhwan akhwat di ruang terbuka. Tak berapa lama, satu per satu mereka bubar dan muncul sebagai the umbrella girls and boys yang meninggalkan tempat. Kagum aja dech! Hujan-hujan deras begini mereka masih rajin datang dan berkumpul, meski aku yakin kebanyakan mereka pasti kebasahan sejak berangkat.

Hmmm, inspirational evening! Memang, ini bukan masalah hujan, ini masalah jiddiyah!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s