Bukan Masalah Kondisi, ini Masalah Jiddiyah!

Standard

Selasa, 5 April 2011

Bukan weekend, tapi aku pengen ke rumah mbahku. Karena terbukti pada weekend-weekend lalu justru bukan menjadi hari libur yang longgar tanpa banyak aktivitas, untuk seorang mahasiswi “seperti aku” berkunjung ke rumah mbahku.

Malam selasa, bersama si Bujang, motornya si ranger putih (gyahaha) Fidya Lutfina yang sejak minggu kemarin menjadi motor asuhku, aku melaju menuju rumah mbahku. Lama tidak silaturahim, kangen dua orang tua sepuh yang sendirian (maksudnya berduaan tanpa orang ketiga) di rumah teduh yang banyak tanaman di halamannya itu. Selain itu, alasanku yang lain sebenarnya adalah untuk mencari kedamaian (alah…alay!) yang sunyi dari suasana ramai kosanku, ingin sendirian dan sedikit mengusir gelisah. Haha.

Seperti biasa, mbah-mbahku ini selalu bercerita dan bertanya hal-hal yang sering kali sama. Yang gak mbois adalah aku-nya, yang sering tidak ngeh saat ditanya tentang silsilah dan kisah nenek moyang alias orang terdahulu di keluarga kami. Tapi kemarin lumayan, ada cerita baru dari mbah-mbahku, shiroh jaman penjajahan Belanda dan Jepang! Cerita tentang kehidupan masyarakat jaman itu, terutama pendidikan yang berlangsung. Seru juga! Indonesia Raya ini adalah hasil perjuangan dan kerja keras mati-matian dari para pahlawan pendahulu dan salah satu hal yang sangat diperjuangkan oleh mereka adalah pendidikan. Dulu jaman Belanda, kata mbahku, orang sekolah tinggi itu jarang sekali, kalau gak punya banyak uang, karena Belanda mentarif mahal untuk biaya sekolah tinggi yang dikelola Belanda. Dulu, masih kata mbahku, stok guru-guru pengajar pun minim, jadi anak-anak yang lulus SD langsung disekolahkan menjadi guru. Bahkan ada yang baru kelas dua sudah diminta mengajar adik kelasnya kelas satu, saking terbatasnya guru kala itu. Sayangnya, kadang ada yang sudah sekolah tinggi (jaman itu) lalu setelah lulusnya direkrut oleh Belanda menjadi pejabat pemerintahan dengan tawaran gaji yang luar biasa besar, sampai kalau pas gajian, kata mbahku lagi, uangnya bisa memenuhi meja. Waww! Itu berarti, gerak dan aktivitas pergerakan mereka menjadi terbatas karena status PNS-nya di bawah komando pemerintahan Belanda. Aku jadi ingat istilah “brain drain”. Hmmmh. Pak Sukarno adalah salah satunya, yang pernah mendapatkan tawaran jabatan dan kemewahan yang sama. Tapi beliau lebih memilih berbakti untuk Indonesia, ilmu dan kemampuannya adalah untuk kemerdekaan bangsanya, bukan untuk berleha-leha menikmati hidup untuk dirinya sendiri. Baiklah. Aku jadi tersengat semangat juang mereka, untuk belajar terutama. Bagaimana bisa dengan segala fasilitas dan kemudahan belajar di jamanku ini, aku masih malas untuk belajar penuh serius. Fiiiiuwww! –__–“”

Selanjutnya, memanfaatkan semangat dan cerah cantiknya pagi hari untuk membereskan tugas perkembangan yang hukumnya fardhu ‘ain bagi mahasiswa. Hehe. Sebelumnya aku telepon Iis, soulmate-ku yang selalu baik hati dan rendah hati pula. Keren tu dia sekarang. Sudah jadi dosen di sebuah universitas swasta di pulaunya, lalu dia cerita-cerita pengalamannya yang seru dan gwokil saat mengajar mahasiswanya yang notabene adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang sering kali melontarkan pertanyaan tak senonoh-mmm, maksudnya, aneh-aneh…seperti misalnya saat dia menyampaikan mata kuliah perkembangan peserta didik, ada yang bertanya “Bu, kenapa bayi itu kalau lahir menangis, tidak tertawa?” Gyaaaa….! Ada pula yang tanya, “Ibu S2-nya dimana?” Hahaha, belum juga ada satu tahun Iis lulus S1. Yah, begitu lah. Iis San, teman baikku itu sedang menempuh tugas perkembangan selanjutnya: berkarir. Cieciecie :D

Zzzzzzzzzz…

Lalu telepon Fidya.

Assalamu’alaikum, Fid, lagi dimana?”

Wa’alaikumsalam, di PO. He, tumben!” dengan nada heran dia berseru.

Ya ampyun, gitu ya saking gak pernahnya aku telepon kamu…”

Lha gak biasane lho.”

Emang kenapa?”
“Nomormu M3 kan…”

Trus kenapa?” * heng hong ni critanya aku, gak dong dong…

Lha nomorku lak AS.”

Haaah, iyo ya, nomormu AS…! Ya wes, gak jadi. Assalamu’alaikum.”

Klik!

Gyahaha, aku tertawa sendiri setelah mematikan telepon. Aku lupa sama sekali kalau Fidya sudah bukan lagi IM3-er. Dia telah inshilah (lepas-red) dari jamaah indosat (hehehe!). Dan bagaimana pun, aku-dengan statusku sebagai mahasiswi- haruslah memperhatikan hal ini: hemat pulsa! (tidak telepon operator lain dalam kondisi yang tidak mendesak, hehehe)

Siang hari, nonton berita-berita seru sama mbahku. Huray! Nemu tipi. Maklum, di kosan gakda. Salah satu berita yang subhanallah menggugah adalah tentang gadis cilik di Pamekasan yang tidak punya kaki, tapi masih bersemangat pergi ke sekolah, berjalan merangkak sebisanya dengan kedua tangannya, belajar di kelas, duduk di bangkunya, dan menulis dengan tangannya yang kidal. Belum lagi sepulang sekolah ia masih membantu ayahnya bekerja memecah batu. Untuk apa? “Buat uang jajan…” katanya dengan polos. Ya Robbiy…aku belajar tentang psikologi perkembangan, dan sama sekali ini tidak masuk dalam teori tugas perkembangan masa kanak-kanak seperti dia, bukan saatnya dia bekerja apalagi dengan keterbatasan fisiknya yang memprihatinkan. Harusnya dalam seusianya, dia bersemangat belajar, bersenang-senang bermain, berlari, bercanda, dan menikmati jajan-jajan yang disukainya. Seperti masa kecilku. Memperhatikan keadaannya, seolah mengisyaratkan sebuah pesan lantang: HARAPAN ITU MASIH ADA!!! Sebuah harapan masa depan yang (pastinya) ia harapkan indah dan cerah adanya.


Lagi-lagi menemukan sebuah penguatan dan penyadaran bahwa hidup ini harus diperjuangkan, terlebih bersemangat belajar tanpa kenal kata malas! Apalagi mengingat kembali salah satu cita-citaku: dosen dan terapis. Seperti tadi pagi aku saling bercerita dengan Iis, salut deh, dia dengan keteguhannya bercita-cita. Selama nafas masih berhembus dan jantung masih berdetak, tidak ada alasan untuk tidak bersemangat belajar. Teringat kisah tentang adiknya Aa Gym yang lumpuh sampai hampir kehilangan pendengaran, tapi tak pernah jemu untuk pergi kuliah sembari digendong oleh kakak-kakaknya. Suatu ketika sang adik pernah ditanya “Dhek, kenapa masih memaksakan kuliah padahal sudah tidak terdengar?” Lalu adik yang jernih hatinya ini berkata: “A’ kuliah itu ibadah, saya belum tentu masih ada umur atau tidak, tapi saya ingin menyempurnakan ibadah saya.”

* dan saya tergugu menyaksikan beliau menuturkan kisah ini (di salah satu episode Kick Andy).

Oh Allah, seringkali Engkau tunjukkan pada kami teguran yang hendak Engkau sampaikan melalui peristiwa-peristiwa, agar tersadar kami dari kelalaian…

Hmmm, memang keberhasilan tidak tergantung kondisi, tapi tergantung seberapa besar kita mengusahakannya. Ada banyak orang dengan keterbatasannya tapi tak pernah putus asa, ini namanya bersungguh-sungguh. Dan Allah berjanji mengabulkan doa dan usaha orang yang bersungguh-sungguh. Ada juga yang punya banyak keleluasaan fasilitas, tapi justru bersantai-santai tidak serius, ini namanya terlena. Ada mbak kosku dulu, yang tanpa punya laptop sendiri, toh mampu menyelesaikan studinya tepat waktu, tapi tidak sedikit juga nyatanya mahasiswa yang punya fasilitas lengkap penunjang kehidupan dan akademis, tuh belum lulus juga (uhgk! tersedak).

Suatu sore aku bertanya pada salah seorang teman.

Lho, gak ke kajian?”

Hujan mbak…”

Lha itu yang lain juga pada datang meskipun hujan…” Setelah menyelesaikan kalimatku ini, aku menemukan kesimpulan: ini bukan masalah rintik hujan, ini masalah jiddiyah (kesungguhan)!

* Kata seorang ustadz, pak guru ngaji, jiddiyah seseorang itu biasanya tergantung pada kondisi ruhiyah. Kalau hari ini dia sudah tilawah satu jus misalnya, atau qiyamul lail dengan baik tadi malam, insya Allah meski terasa berat, dia akan berangkat juga memenuhi panggilan kebaikan. Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s