Orang-orang yang Membawa Pesan Kehidupan

Standard

16 Januari 2011

Suatu ketika aku mempunyai seorang teman yang subhanallah diberi kekurangan oleh Allah secara jasmani. Bukan hanya secara fisik ia tak begitu cantik (seperti ukuran orang Jawa pada umumnya), matanya sedikit juling, tidak tinggi, dan tak lancar bicaranya, juga dalam hal kesehatan sebagai wanita ia belum sempurna memiliki tanda-tanda kewanitaannya. Ketika ternyata aku menjumpainya sebagai teman dalam lingkup dekatku, subhanallah, aku iba sekaligus takjub. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya menjadi dia. Kadang diam-diam aku perhatikan dia dan berfikir: alhamdulillah beruntungnya aku dipertemukan dengannya. Dengan itu seolah Allah ingin mengirim pesan padaku: bersyukurlah. Allah sungguh berhak membagi pemberian-Nya kepada siapapun, dengan porsi seberapapun. Dan jangan pernah bertanya tentang keadilan pada Sang Maha Adil! Saat aku mengerti bahwa dia kurang menjadi perhatian, seolah ada pesan tersampai padaku: sayangilah dia, perhatikanlah dia dengan lebih, karena pasti ada kesedihan tersendiri menjadi seorang seperti dia. Tolonglah kekurangannya yang kau bisa ringankan. Membuatnya gembira adalah kebahagiaan tersendiri.

Ada lagi kutemui teman-teman hebat. Cantik, shalihah, cerdas, berbakat, berprestasi, anak orang kaya, nasabnya baik, diidolakan banyak orang, disayangi banyak teman, penuh kegemilangan. Bukan itu masalah yang membuatku cemburu, sungguh bukan seperti jealous-nya Abu Lahab pada Muhammad yang melahirkan sifat jahat, tapi seperti cemburunya Aisyah pada kebaikan Khadijah. Masalahnya, dia selalu saja mengerjakan apa yang aku ingin kerjakan. Dia memenuhi tugas-tugas kehidupan yang aku ingin tapi aku tidak bisa melakukannya. Dia mengerjakan lebih banyak manfaat yang aku tidak bisa memberikannya. Ada batas kompetensi yang tidak bisa aku tembus, dan itu sungguh menjengkelkan di suatu waktu. Lalu, aku menemukan pesan kehidupan darinya: menjadi mutiaraku sendiri! Kenapa harus cemburu jika kita tercipta dengan peran kita masing-masing? Bahwa setiap kita punya peran berbeda di mata Allah. Semuanya penting dan berarti. Saat aku tidak bisa melakukannya sepertimu, pasti ada hal yang kau juga tidak bisa melakukannya sepertiku. Selalu ada batas beda berbentuk kompetensi pada setiap jiwa yang dihidupkan-Nya. Maka biarlah kelemahanku menjadi ladang amal untuk orang lain.

Orang-orang di sekitar kita, mereka seringkali membawa pesan-pesan kehidupan. Bunyinya macam-macam. Tapi yang jelas pesan-pesan itu seringkali mengingatkanku pada sebuah doa:

Ya Allah tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”

Kadang pesan itu berisi kabar gembira juga kadang ancaman. Misalnya saat bertemu orang yang menjengkelkan dan membuat makan hati, pesan itu berbunyi: bersabarlah, pilih cara paling tepat untuk menyentuh hatinya. Pasti ada, pasti ada.

Saat ego tersulut untuk tak mau kalah mendebat pendapat seseorang yang kurang tepat, tapi di satu sisi menyadari masalahnya pasti akan panjang jika perbedaan diperdebatkan, seolah ada pesan mengingatkan pada kata-kata Rosulullah: siapa yang menghindari berdebat padahal ia bisa memenangkannya, Allah akan membangunkan rumah di surga untuknya (hadits riwayat Abu Dawud).

Saat menemui pengamen berisik yang nada nyanyiannya tak membuat nyaman di bus yang pengap di saat perut mulai mual, pesan itu berbunyi: think glad, think glad, everything will be good! Nikmati saja, toh keadaan tidak akan berubah sejuk dan damai dengan rasa sebal, tapi sugesti feeling kita lah yang bisa mengkondisikan suasana itu menjadi nyaman. Di keramaian bus itu juga yang selalu membuatku senang menikmati perjalanan, yaitu: memperhatikan para pedagang kecil yang menjajakan dagangannya dengan tak jemu-jemu, meski lelah dan peluh tampak sekali di wajahnya. Seakan mengisyaratkan pesan: beginilah mereka mengusahakan hidupnya, mungkin juga untuk menghidupi orang-orang tersayangnya. Jadilah aku malu jika dengan banyaknya kelapangan yang kupunya tak sampai sungguh-sungguh berjuang untuk hidupku dan untuk kehidupan banyak orang.

Saat hari raya dan berkunjung ke handai taulan, rasa iba merambati hati, mendapati mereka yang masih sangat berkekurangan, dari berbagai sisi: duniawi dan ukhrawi. Lalu rasa iba melihat wajah-wajah mereka seolah mengirim pesan menyentak: apa yang sudah kulakukan untuk mereka? Bahkan selain mereka masih banyak lagi orang yang butuh pertolongan. Seharusnya jadilah salah satu tangan yang menolong itu. Bukankah ada warning Allah: salah satu ciri pendusta agama adalah dia yang tidak mendorong memberi makan orang miskin dan salah satu ciri orang yang lalai shalatnya adalah yang enggan memberikan bantuan (surat al Ma’un). Astaghfirullah.

Saat bersama dalam lingkaran halaqoh yang menyenangkan, menatap wajah-wajah mereka selalu menjadi pesan untukku: jadilah lebih baik!

Dan ketika ternyata si penyampai amanah lagi-lagi membuatku tercengang, “Kenapa aku lagi? Bukankah dia lebih pantas? Bukankah dia lebih baik dan pas untuk berada di sini?”, pesan itu berbunyi: pasti ada pelajaran yang hendak Allah sampaikan dengan cara ini. Mungkin begini cara Sang Maha Penjaga menjagaku.

Pesan-pesan itu selalu saja mendamaikan gemuruh hati. Dia Yang Maha Bijaksana selalu saja membuatku belajar untuk juga bijaksana memaknai kehidupan. Telah selama 23 tahun Allah mengamanahkan hidup dan pengurusan dunia ini padaku. Subhanallah, benarlah bahwa sudah semakin dekat dengan masa aku pulang ke kampung halaman. Semoga itu adalah: SURGA! Seorang yang kucintai mengajakku, “Ayo ukht, kita persembahkan kinerja terbaik kita kepada Allah di sisa waktu ini!” Aku mengangguk dengan senyum terharu. Di depan layar HP. Pesan itu masih ada di sana. Benarlah kiranya doa agar terus dipertemukan dengan orang-orang yang membawa pesan kehidupan, yang tidak lain itu adalah pesan yang hendak disampaikan Allah kepada hamba-Nya agar hamba itu selalu mengingat dan bersyukur pada-Nya. Karena di setiap cerita kehidupan selalu membawa pesan berharga, yang kemudian menjelaskan bahwa keberadaannya diciptakan oleh Sang Pencipta bukanlah kesia-siaan yang sepi akan makna. Sayangnya, tidak selalu pesan-pesan itu kita dengarkan dan rasakan pentingnya.

Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang selalu mereka kerjakan.”

Al An’am: 126-127

Alhamdulillah. Terimakasih kepada mereka yang menginspirasi.

Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.”

Al Muthaffifin: 22-24

Jadikanlah aku salah satu hamba-Mu yang mendapati janji baik-Mu itu. Amiiiiiiin.


2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s