Merasa

Standard

Seseorang bercerita padaku. Setiap kali ia merasa kacau, jawaban kegalauannya selalu diperoleh darinya. Dari wanita itu. Kelegaan dan rasa tenang itu didapat setelah mendengar kata-kata ajaibnya. Kata-kata wanita itu. Semangat dan letupan motivasi selalu dirasakannya. Karena keberadaan wanita itu juga. Semua itu membuatnya mengusung satu kata tanya: mengapa? Mengapa selalu saja melalui dia? Mengapa selalu dia yang bisa? Jika memang Tuhan menitipkan petunjuk dan penenang hati itu melalui perantara seseorang, mengapa selalu dia? Dari orang-orang lain yang ia temui tidak didapatinya. Hingga akhirnya, saat seseorang itu bercerita padaku, dia merasa wanita itulah yang dibutuhkannya. Dia merasa wanita itulah yang dititipi oleh Tuhan untuk mengantarkan kedamaian dalam hidupnya.

Wanita itu, di saat yang sama bercerita pula padaku. Dia bertanya-tanya, mengapa selalu dirinya yang kebetulan mengantarkan jawaban masalah untuk seseorang itu? Sampailah, saat wanita itu bercerita padaku, dia merasa bahwa dirinyalah sosok yang dibutuhkan seseorang itu. Dia merasa, dirinya yang bisa mengertikan seseorang itu, menerima dan memahaminya apa adanya. Yang bisa menolong dan mendampingi kesulitannya.

Dan mereka memang hanya berani merasa…

Bukan hendak menyatakan. Karena masing-masing mereka tetap merasa:”Aku hanyalah seorang teman baginya.”

Dan mereka memang hanya berani merasa!

Aku terngiang-ngiang tak mengerti. Sungguh tidak. Karena aku masih antara ragu, benarkah itu ilham atau sekedar prasangkaan. Benarkah itu firasat baik atau jangan-jangan bisikan setan yang memprovokasi. Ya, bisa jadi itu genderang setan yang lantas mengumandangkan gemuruh rasa ‘merasa’ itu. Entah akan bagaimana akhirnya, yang kutahu, aku tidak punya banyak kalimat untuk menjawabnya. Yang kutahu, aku katakan pada mereka: bersabarlah, jangan tergesa menuruti perasaan. Bisa jadi kedalaman rasa kita menutupi kebenaran. Hati-hati! Rabalah hatimu, tuluskah perasaan itu. Tulus dalam arti: dalam perasaan itu, murni ada Allah sebagai alasan. Jujur, ada kebaikan yang ingin diusahakan.

Aku tidak mengerti, sungguh. Yang kutahu, perlu sedikit mengambil jarak sementara, dan perlu sedikit menyiapkan waktu untuk kita diam dan merenungkan, jujur pada Allah dan pada diri masing-masing. Adakah benar atau dibenarkan untuk meneruskan rasa ‘merasa’ itu? Jika benar dibolehkan, pastilah dengan cara yang disukai-Nya. Benar, kan?

Seperti yang diceritakannya padaku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s