Inspiring Story of “Punk Muslim”

Standard

Kamis, 25 Nopember 2010

Ya Allah, betapa begitu banyak pelajaran Engkau hamparkan di muka bumi ini. Tinggal para manusia mau mengambilnya atau tidak. Betapa beruntung orang-orang yang mengambil kesempatan untuk ‘belajar’ itu. Dan betapa beruntung aku bahwa aku adalah salah satu dari mereka yang berkesempatan mendapat pelajaran itu.

Ada cerita menarik hari ini.

Pagi-pagi bersiap menuju UB, janjian dengan dua orang: teman kuliah dan adik mentoring. Janjian mau ikut talk show unik bertema “Punk Muslim”. Hoho, lucu kan? Sampai di UB, berlanjut menemukan gedung yang kutuju. Oh, pas di samping perpus UB. Maka kutunggu dua orang itu di depan perpus. Beberapa waktu kemudian, ada rombongan manusia berjalan dari timur. Yang depan ada dua orang cowok, satunya mirip Danang Ambar Prabowo (dari jauh). Di belakang mereka, ada dua cowok lagi yang tampak lebih gaul dan di belakangnya lagi ada dua akhwat. Mereka melintas di depanku. Mbak akhwat yang bergamis dan berjilbab orange menatapku (yang lebih dulu telah menatapnya) dan kami saling tersenyum. Hmmm, cantiknya. Masih kuamati mereka yang sudah berlalu beberapa meter dariku. Sampai di tempat registrasi, lhoh kok ada orang-orang itu tadi? Oalah, jangan-jangan mas yang mirip Danang ini pengisi materinya? Entahlah.

Huuyess! Alhamdulillah, acara belum mulai. Kadang kemoloran itu menguntungkan, saat aku sendiri yang telat, jadi tidak perlu ketinggalan sesi acaranya.

Acara dimulai.

Opening nasyidnya bagus. Tepat milih lagu dan pas mendukung tema dan suasana. Sip, apik, apik. Lalu berlanjut ke pemateri pertama. Dan benar saja, mas yang kukira mirip Danang tadi adalah sang pemateri, Bang Zaki namanya (yang di kemudian cerita ku tahu bahwa dialah semacam sang murobbi-nya anak-anak punk itu). Di awal dia hanya bicara sedikit, lantas menampilkan film tentang Punk Muslim. Subhanallah…keren! Unik, lucu, mengharukan, seru (dan serem juga). Belum lagi setelahnya, diskusi interaktif dengan peserta talk show menyibak banyak cerita seru dan menakjubkan.

Beberapa yang kuingat antara lain, ada pertanyaan dari peserta: adakah punk akhwat? Lucu juga pertanyaannya, pikirku. Eh tapi ada lho. Bang Zaki memanggil satu nama yang kemudian muncul di depan kami. Wow, ternyata mbak akhwat yang tadi senyum padaku di jalan adalah seorang mantan punker, dan sekarang telah menjadi akhwat yang rapih…subhanallah! Kemudian diskusi berlanjut dan dua orang anak punk lainnya sempat tampil juga di depan serta bercerita bagaimana dulu mereka menemukan hidayah. Masih juga tampak tampilan punk mereka (meskipun gak parah), terutama tato yang ‘menghiasi’. Tapi satu hal yang telah membuat mereka berbeda: hidayah. Mereka mulai bisa menikmati yang namanya ibadah, merasa butuh pada Allah. Bahkan ada di antara mereka yang tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Hampir saja dia menangis saat bercerita bagaimana dia taubat dari daftar dosa-dosa besar yang sudah penah dilakukannya semua. Dan benar saja, sebelum dia sempat meneteskan air mata, beberapa peserta lah yang justru lebih dulu menangis terharu.

Cerita mengagumkan lainnya, Bang Zaki menunjukkan beberapa foto saat mereka konser. Ceritanya, saat di tengah konser, tiba-tiba adzan isya’ berkumandang, dan mereka, anak-anak punk dan underground yang sedang urakan nyanyi itu berhenti. Ngapain? Mereka ambil wudhu dan…sholat jama’ah di depan panggung! Masih dengan ‘seragam’ punk mereka. Baju belel, rambut gimbal, tindikan, tato, dan atribut-atribut punk lainnya. Mereka sholat dengan rapi dalam shaf-shafnya. Subhanallah… Pemandangan yang menggetarkan dan membuat para hadirin di gedung acara itu bergema dengan ucapan kagum mereka. Mereka ini juga punya semacam proker yang biasa mereka lakukan untuk berbagi manfaat dengan orang lain.

Aku jadi belajar satu hal (dari banyak hal) dari acara ini, yaitu tentang stereotype. Aku seringkali ber- stereotype negatif pada anak-anak punk dan band-band rock seperti mereka. Tapi setelah menyaksikan sendiri, bahwa selalu ada kebaikan yang bisa ditanamkan pada mereka, dan juga selalu ada kebaikan yang bisa mereka lakukan maka sedikit bergeser stereotype negatifku. Kemudian aku ingat Pram, temanku penyuka musik rock. Sayang dia tidak jadi ikut tadi. Aku sering kali sebal mendengar dentuman musik rock begitu. Sangat tidak enak didengar. Mengganggu telinga! Masih ingat saat PPL dulu, aku dan dia sering ribut rebutan winamp komputer untuk menyetel lagu di ruang BK. Sering juga aku diskusi dengannya, penasaran, apa enaknya sich dengar musik begitu? Lalu dia menjelaskan banyak hal, “Begini Han, mereka itu punya falsafah, blablabla… tralala…” Aku dengarkan sich, tapi dasar karena aku sudah berstigma negatif, maka tidak terlalu kuanggap penting ceritanya, dan akhirnya aku juga sudah lupa beberapa cerita itu. Hehehe. Tapi sekarang, justru ada rasa kagum yang pada mereka, bahwa mereka masih mencintai dan ingin dicintai Tuhannya. Mereka yang telah jenuh dengan dosa-dosa hingga merasa butuh untuk mencari Tuhannya, dan hidayah itu mereka dapatkan juga. Ada sesuatu yang lucu juga. Sambil si Zaki itu mengutak-atik laptopnya, eh ada satu gambar keliatan. Gambar logo sesuatu yang sangat familiar denganku. Whuaaah, membuatku tersenyum khusyu’ (ho?).

Ah, banyak cerita yang kudengar, banyak hikmah yang kupetik. Kemudian tiba-tiba merasa underestimate pada diri sendiri, apa karya dakwahku yang sudah kulakukan ya. Belum ada apa-apanya, merasa belum banyak berguna dan menghasilkan perbaikan untuk banyak orang. Dalam hati aku lantunkan sebuah do’a untuk mereka “Ya Allah, panjangkanlah umur mereka dan berikan keberkahan dalam setiap amalnya. Agar bisa lebih lama mereka melaksanakan pekerjaan muia ini.” Amiin…

Tarbiyah oh tarbiyah, semakin bersyukur sangat aku menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang mengusahakan perbaikan itu. Meskipun aku, tidak bergerak pada level yang sama seperti anak-anak Punk Muslim. Ya, aku percaya kita dianugerahi bakat dan potensi positif yang bisa kita aktifkan dimana saja. Mungkin berbeda karya, ruang, dan masa. Tapi semoga Allah menerangi hati-hati kita untuk selalu menyusuri jalan yang benar dengan hati bersinar. Mari belajar dari banyak hal, ada banyak hikmah dibentangkan Allah di muka bumi ini, maka temukan kepingan pelajaran yang tercerai itu, kemudian menjadikan sebuah kesimpulan bahwa betapa indah garis kehidupan yang digoreskan Allah untuk makhluk-Nya.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s