Memberikan yang Terbaik

Standard

Belajar dari Ibrahim, belajar takwa kepada Allah

Belajar dari Ibrahim, belajar untuk mencintai Allah…

(Lirik lagu SNADA)

 

Mengutip lirik sebuah nasyid sederhana di atas, mari belajar sesuatu. Bahwa bagaimanapun, cinta itu butuh bukti. Dan salah satu cara pembuktiannya tampak dari bagaimana seseorang memberikan pengorbanan terbaik untuk yang dicintainya. Begitu pula ketika Allah menguji Nabi Ibrahim yang lembut hati itu dengan memerintahkannya menyembelih putra tercintanya. Kita kadang butuh semacam visualisasi agar bisa menghayati suatu kisah. Maka, coba bayangkan! Jika anda adalah Ibrahim yang ketika itu, baru bertemu putra tercinta setelah belasan tahun sejak Ismail bayi, mereka terpisah ruang dan waktu. Tapi ketika itu pula, Allah memerintahkan untuk menyembelih anak terkasih itu. Bayangkan anda yang menjadi Ibrahim, menggenggam pisau tajam kemudian perlahan mulai mengarahkannya ke leher anak anda sendiri, anda sendiri yang harus mengalirkan darah belahan jiwa yang sekian lama teramat dirindu sebagai penyejuk hati. Saya yakin, bahkan sebelum pisau itu menyentuh leher anak itu, hati kita lah yang terlebih dahulu teriris tersayat-sayat. Tapi Ibrahim melakukannya, sungguh-sungguh menyayatkan pisau itu pada Ismail, hanya karena satu alasan: perintah Allah!

Itulah cinta, itulah takwa. Ibrahim yang selalu tunduk atas perintah Tuhannya. Itulah yang dilakukan Ibrahim sebagai bukti cintanya pada Allah. Pengorbanan terbaik bisa jadi adalah mengorbankan hal yang paling dicintainya. Dan ini bukan hanya terjadi pada Ibrahim, pun Ismail, ketika dia menjawab kata-kata ayahnya, yang diceritakan secara mengharukan oleh Allah dalam Al Qur’an:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu’. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Allahuakbar! Bagi saya, dialog dua orang bapak-anak ini adalah dialog paling mengharukan dan menyayat hati di muka bumi. Jika saya yang mengalaminya, pasti telah hancur lebur hati ini, serta tergugu air mata membanjiri seantero Makkah dan saya hanyut terbawa arus banjirnya (berlebihan!). Maka, itulah pengorbanan terbaik mereka. Dan pantaslah Allah mengunggulkan dan membanggakan keluarga Ibrahim. Kata Allah dalam surat Ash Shaffat:

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Salaamun ‘alaa Ibroohiim’ (kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim)”

Itu salah satu pelajaran besar yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim. Memberikan persembahan terbaik untuk Allah berarti melakukan tepat tanpa kurang dan lebih seperti yang Allah perintahkan untuk kita lakukan. Seperti halnya di bulan Dzulhijjah ini, dalam syariat berkurban Allah menghendaki kriteria terbaik atas hewan kurban. Hewan kurban tidak boleh berpenyakit, cacat, pincang, buta, kurus sekali, dan yang ompong giginya. Begitulah Allah menguji hamba-Nya, siapa yang paling rela memberikan ibadah terbaiknya kepada Allah.

Teringat kata-kata seseorang tentang surat Al Imran ayat 92:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.”

Ada satu makna mendalam dalam ayat ini. Bahwa ketika kita telah memberikan harta yang paling kita cintai, maka selanjutnya yang paling kita cintai hanya Allah. Bukan lagi kemilau duniawi, tapi hanya ada ruang cinta untuk Tuhannya.

 

11 responses »

  1. Allah selalu saja punya cara menjadikan dirinya Yang Paling DiCinta…

    I Love Allah, I Love Rasulullah..

    n I Love You

    semoga kita bisa membuktikan ini. seperti Ibrahim membuktikan pada Allah

  2. Pingback: #Memberikan yang Terbaik « .: haniself :.

  3. “Bahwa ketika kita telah memberikan harta yang paling kita cintai, maka selanjutnya yang paling kita cintai hanya Allah. Bukan lagi kemilau duniawi, tapi hanya ada ruang cinta untuk Tuhannya. ”

    Setujuuu!! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s