SMS, Sang Pencerah

Standard

Anaa ‘inda dhanni ‘abdiy. In khairan fa khairan wa in syarran fa syarran.”

Seperti hadits qudsi di atas yang bercerita bahwa Allah berfirman:

Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku. Sekiranya yang berprasangka baik, akan berdampak baik dan sekiranya berprasangka buruk akan menjadi buruk.”

 

Mungkin seperti itu juga menghadapi kehidupan ini dengan sebuah prasangka baik, maka yang akan kau temui pun adalah hal-hal yang sejalan dengan prasangka baik itu (amiin).

Memang terkadang banyak hal pahit dalam hidup kita. Tapi kehidupan sendiri yang kemudian menjelaskan bahwa keberadaannya diciptakan oleh Sang Pencipta bukanlah kesia-siaan yang sepi akan makna.

Tinggal kau mau ‘mendengar’ penjelasannya atau tidak.

 

Lalu malam ini aku punya cerita. Memang ketika dalam frame otakku yang telah tersetting adalah bahwa hidup ini penuh dengan tarbiyah, full of hikmah pembelajaran dari ilahi, maka kemudian insya Allah yang selalu kuhadapi akan mengantarkan pada anggapan atau kesan bahwa selalu ada tarbiyah dari Allah dalam setiap kejadian.

Malam ini, suntuk sekali rasanya melihat dan menggenggam si Azzam, HP-ku yang so simpel ini. Sewaktu aku memberinya nama Azzam, salah satunya adalah sebagai sebuah doa agar dia selalu penuh tekad menemaniku. Tapi malam ini terasa menyebalkan sekali menyentuh nya. Sedang suntuk sekali diserbu sms terus-terusan. Setiap kali bunyi dan getar sms datang, haih…bosan sekali. Kadang ketika setan tengah berbisik dengan merdunya serasa ada sebuah kalimat berdengung: “Sudahlah Hanis, abaikan saja, biarkan. Tidak usah dibalas. Kamu capek kan? Lagi suntuk? Ya sudah, biarkan saja SMS-SMS itu, abaikan! Anggap saja bukan hal penting. Kalau perlu matikan, agar kau punya alasan nanti.” Kadang ketika terlintas sebuah rasa egois, kalimat demikian cukup menggoda. Ah, tapi untungnya bisa kusapu debu-debu pikiran egois itu. Meskipun masih dengan menekan perasaan suntuk, kubalas satu per satu sms-sms yang berkunjung di inbox-ku. Sambil merayu diri sendiri, sabar Hanis, be sincere

Buka, baca, balas, hapus. Buka, baca, balas, hapus! Selesai.

Kulanjutkan menyalakan Kautsar laptopku, ngerjain tugas. Eh, tiba-tiba sms datang lagi. Unknown number. Dalam hati aku sudah berujar, kalau sampai ini orang iseng, tak matikan kamu, Azzam! Gak tau apa orang lagi banyak kerjaan. Dikejar deadline.

Buka, baca…

Kadangkala sepi menghinggapi letihmu. Hingga kau merasa bahwa langit tidak ikhlas menudungmu. Saat itu kau akan menyadari bahwa Tuhanmu akan memberi warna pelangi. Tepat pada waktu kau membutuhkannya.”

 

Ffiiiiuwww…(efek angin semilir bertiup menyejukkan -seperti di film-film, hehe). Tiba-tiba merasa dihibur. Langsung kubalas “Hufh. Subhanallah kok pas dengan kondisi hati ya. Syukron.. Tapi, ni sapa ya?”

Dan betapa kagetnya aku membaca balasannya: “SPV ***. Fulan.”

Dieng!!! Langsung kupegangi keningku. Masya Allah, sudah kadung ekspresif begitu sms-ku, kukira temanku atau adik-adik akhwat, yang biasanya berkata-kata indah. Lhah ternyata, orang penting yang bahkan aku tidak kenal itu. Haih…! Malu-maluin. Bisa-bisanya aku cerita suasana hati pada SPV dakwah. Hahhh! Astaghfirullahal’adziim.

Tapi alhamdulillah, mood-ku pada sms dan pada Azzam jadi agak baikan. Aku jadi ingat seringkali terjadi begitu. Saat aku sedang diam dengan diriku, memendam dengan segala rasaku tanpa hendak bercerita pada manusia, eh tiba-tiba Allah mendatangkan penghibur hati dari sms-sms yang tanpa kuminta datang sendiri. Dan uniknya, seringkali dari orang-orang tak terduga. Seperti misalnya tiba-tiba saja ada sms taujih/ nasehat/ kata-kata mutiara, emas, atau berlian dari Dhek Wildan, Uus temanku MTs, dan seperti malam ini, dari SPV. Lebih uniknya lagi, subhanallah, sms-sms itu kok paaas banget dengan suasana hati. Justru saat aku sedang diam, menyimpan, dan memendam, Allah mendatangkan jawaban kegalauan dari arah yang tak terduga. SMS, salah satunya. Bolehlah jika kusebut dia adalah pencerah, layaknya sebuah warna pelangi pemberian Allah, yang datang tepat pada waktu kau membutuhkannya. Pencerah yang tanpa terduga didatangkan-Nya untuk mencerahkan senyumku kembali. (^,^)*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s