Kesorean

Standard

Seringkali ketika kajian di masjid kampus di sore hari, salah satu hal yang kuperhatikan adalah orang-orang yang sholat asar di masjid (karena kebetulan kajiannya di serambi masjid menghadap ke barat). Ketika memperhatikan orang-orang yang sholat itu aku selalu saja heran dan berpikirkok bisa-bisanya jam segini baru sholat asar. Sekitar jam 5, bahkan masih ada juga yang sholat hampir jam setengah enam (berdasarkan ukuran waktu Malang, ini sudah saatnya menjelang sholat maghrib). Selalu saat kajian kuperhatikan, ada saja yang masih sholat asar pada jam-jam segitu, dan aku selalu membatin “Ya Allah, kok baru sholat sih. Ini kan dah mau maghrib…” Mungkin juga dalam batinku itu terdapat sedikit dzon tidak bagus pada mereka, seolah aku mengatakan “Kok bisa ya jam segini baru mau sholat asar, ck, ck, ck…”

Lalu, apa yang terjadi padaku sore tadi? Bermula karena rokku dipipisin Vito, maka niatnya mau sholat asar di rumah saja. Maka, kuputuskan untuk naik angkot dua kali saja, daripada menunggu satu angkot yang justru luaammaa datangnya. Dengan estimasi waktu kira-kira setengah jam sampai, sehingga masih layak lah untuk sholat asar dengan tenang. Tapi apa yang terjadi? Di tengah jalan aku diturunkan oleh Pak Angkot dan disuruh nunggu angkot belakangnya. Hah? Hmmmh, lamanya menunggu angkot berikutnya cukuplah membuatku manyun!Ini baru angkot yang pertama, belum ntar oper lagi…aku belum sholaaat…!

Lantas, dapatlah aku angkotnya, dan perjalanan ditempuh dengan lammma…entah pake acara nge-time, macet sore hari, dll, haihh…! Tambah geregetan. Sesampainya di kontrakan, setelah satu setengah jam di jalan, ternyata sudah jam lima lebih lima menitan kira-kira. Waaah…kadang pukul lima sore terasa mengerikan. Mungkin juga lebih mengerikan daripada gelap malam. Karena aku belum sholat asar. Hiks!

Sesaat sebelum mulai takbiratul ihram, tiba-tiba aku ingat tentang pikiranku sendiri, saat aku selalu membatin dan mungkin kadang juga berprasangka pada orang-orang yang baru sholat asar pada petang hari menjelang maghrib yang kulihat di masjid. Mungkin saja mereka merasakan seperti yang aku rasakan ini juga. Sebuah rasa bersalah telah telat sholat. Dan mungkin juga, apa yang menyebabkan mereka telat adalah hal-hal semacam yang kualami sore ini. Mungkin saja mereka telat sholat karena ada praktikum yang padat di kampus, mungkin masih nge-lab dan tidak bisa ditinggal (karena bisa meledak lab-nya, hehe), atau masih ada ujian sampai dosennya molor sangat sore. Haaah…tiba-tiba merasa bersalah pernah berpikir underestimate pada mereka. Serasa mendapatkan pelajaran sore ini. Bagaimanapun, husnudzon adalah satu cara ampuh menjaga hati.

Alhamdulillah. Lega. Bahwa aku butuh sholatku untuk menumpahkan cerita segala rasaku, aku butuh sholatku untuk minta ampun pada Tuhanku.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s