Belajar dari Modeling-nya Spongebob

Standard

Di salah satu episode Spongebob, lupa judulnya, yang kurang lebih critanya, dia menemukan rambut palsu dari bahan semacam tisu, lalu dengan bangganya dia mengenakannya sebagai rambut palsu. Tapi dasar Spongebob yang innocent dan rada blo’on itu, menggunakan rambut palsu itu untuk hal-hal yang ‘nggak banget’. Semisal dipakai ngepel, lalu diperas dan dipakai lagi (plis deh!). Kemudian muncullah kutu-kutu menjijikkan yang memang sudah pantas membuat Squidward yang jutek itu bertambah benci dan muak sama Spongebob. Namun, Spongebob yang lugu (blo’on) itu tetap saja bangga dan membanggakan model rambut barunya itu pada orang2 (eh, ikan2 ya?), berharap mereka akan mengagumi model rambut baru yang membuatnya merasa tampan tadi. Dan sudah sewajarnya, orang-orang itu no respon padanya dan pada rambut barunya yang selain tidak penting, juga bertambah sangat menjijikkan.

Lantas, bla…bla…bla…dibuanglah rambut palsu itu. Eh…artis gundul, si empunya asli rambut palsu itu menemukannya, dan dipakailah lagi. Kali ini, sekalian dipakai oleh semua anggota grup band-nya.

Beberapa hari kemudian… tereng teeeng!

Spongebob terpana dengan suasana Bikini Bottom, yang kesemua orangnya mulai dari bayi sampai manula mengenakan rambut palsu itu. Lhoh?!!!

Ternyata, mereka terinspirasi oleh Grup Band yang balihonya terpampang di tengah kota, mereka mengenakan rambut palsu itu.

Yang ingin saya ceritakan adalah, saya hanya sedang ingat dengan sebuah teori modeling dalam aliran psikologi behavioristik yang konsepnya hampir mirip dengan cerita Spongebob di atas.

Bahwa untuk menjadi seorang model (bahasa bagusnya: tauladan) yang berpengaruh kuat untuk ditiru orang lain, perlu perhatikan beberapa hal:

  1. Siapa sih aku? Pantaskah aku memodelkan hal itu? Semisal aku hanyalah seorang Spongebob yang sering dianggap dudul dan blo’on oleh penghuni Bikini Bottom, siapa yang akan menaruh kepercayaan memodelkan rambut aneh itu? Sudah lugu, tambah aneh pula rambutnya. Ini ada dalam teori modeling behavioristik, bahwa status dan kehormatan model amat berarti, karena keberhasilan teknik ini tergantung pada persepsi konseli terhadap model yang diamati. Jika konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang mencontoh tingkah laku model tersebut. Dalam kisah tadi, jelas pesona Spongebob yang hanyalah seorang Spons kuning yang kurang begitu penting bagi khalayak, kalah dengan pesona Grup Band ternama yang dengan mudahnya mepopulerkan gaya rambut nyentrik tadi. Emang biasanya begitu ya, artis tu lebih sering dijadikan acuan lifestyle oleh masyarakat. Hmmh…perlukah jadi artis dulu, untuk mempopulerkan hal-hal yang lebih baik? Oh tidak. Cukup tebarkan saja pengaruh kebaikanmu pada sekitarmu.
  2. Sudah benarkah caraku memodelkan? Penting! Jangan tiru adegan Spongebob (meski dalam bentuk lain) yang sama sekali tidak peka suasana, bagaimana orang menilai perilaku yang –niatnya- ingin ia contohkan/ populerkan. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat, begitu teorinya.
  3. Perlu hati-hati juga, bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri, alias konseli justru kehilangan karakter pribadinya sendiri. Fenomena macam ini sering kita lihat, seperti para warga Bikini Bottom yang serta merta meniru rambut nyentrik si Grup Band tadi, padahal ada (banyak) juga yang gak pantas blas dengan model rambut begitu.

Ah, maaf, sedang kurang lihai panjang lebar.

Yang penting, ada satu adegan menggemaskan di akhir episode Spongebob ini. Bukan Spongebob namanya kalau tidak nampak sisi genuine dirinya (ini istilahku untuk keluguan Spongebob, hehe). Di akhir cerita episode ini dia mengatakan pada dirinya sendiri dengan mata berkaca-kaca, yang sebelumnya sungguh kukira dia akan sedih sangat dicela bahwa dialah orang yang tidak keren sendiri, sedang semua orang tampak keren dengan rambut palsunya.


Dia berkata, “Oh, berarti, sebelum orang2 ini, aku sudah lebih dulu kereen…”Gubrakk!!! Baiklah, ini logoterapi ala Spongebob (untuk menghibur diri, hehe).

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s