Sensasi Rasa Menggetarkan Jiwa

Standard

Plak!

Huff, rasanya pasti sakit jika tertampar, apalagi jika tamparan itu begitu keras. Tapi ada hal yang patut disyukuri atas tamparan dan rasa sakit itu. Setidaknya, rasa sakit itu mengindikasikan bahwa sel syaraf sakit kita (entahlah lupa apa namanya) masih berfungsi baik memberi sinyal bahwa ada anggota tubuh kita yang sedang sakit dan perlu segera diatasi untuk disembuhkan.

Begitu pula sensasi rasa ‘tertampar’ yang akhir-akhir ini bertubi-tubi didatangkan Allah padaku. Hari ini terutama, huff…masya Allah, betapa aku merasa tertohok dengan banyak kejadian hari ini. Betapa hamba kecil-Mu ini ya Allah…masih harus dididik dengan keras agar lebih bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik. Meskipun saat melihat mereka-mereka, aku sangat kecil dan sama sekali bukan yang terbaik di antara mereka, tapi setidaknya, aku punya kesempatan yang sama dengan mereka untuk melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan.

Sungguh-sungguh hari yang indah, syahdu, yang sensasi rasanya sampai menggetarkan jiwa…

Istighfar. Astaghfirullahal’adziim. Datang-datang langsung disuruh istighfar karena telah telat. Apapun alasannya, telat tetaplah telat, yang itu berarti: telah mendzolimi saudaranya yang hadir lebih tepat waktu. Masya Allah…

Terpana. Memandangi sosok-sosok mengagumkan yang satu per satu muncul di hadapan kami, mengutarakan beberapa kata yang subhanallah menyentuh di tiap penghujung kalimatnya berakhir. Melihat mereka itu, berkesan-kesan. Melihat wanita muda shalihah itu, serasa malu ingat PR-PR dakwahku. Melihat Ustadzah Maya, rasanya ingat taubaaaat gitu, seperti halnya melihat Ustadz Dwi, rasanya ingat matiiii aja. Subhanallah. Begitulah mungkin kekuatan keimanan menyampaikan aura mereka pada orang lain yang seperti kata Nabi saw., seseorang yang ketika orang lain melihatnya, akan mengingatkan pada Allah. Kira-kira kalau melihatku, orang bawaannya ingat apa ya…? –__–!

Menangis. Sensasi rasa berikutnya. Aku melankolis memang, tapi menurutku bukan karena karakter melow-ku itu aku menangis, tapi karena memang apa yang tersampaikan dan terlihat di depan mata kami membuat kami layak untuk menangis, karena ternyata bukan aku saja kok yang nangis. Tapi sejujurnya, ada satu hal yang aku syukuri punya karakter melow -gampang nangisan- begini, setidaknya karena aku jadi mudah tersentuh oleh sesuatu, terutama ayat-ayat Al Qur’an dan taujih sehingga gampang mengena di hati. Alhamdulillah.

Bekas. Ada bekas yang melekat di hatiku, bekas-bekas sensasi rasa yang menghentak dan membangunkanku dari ke-santaian-ku, untuk kembali berazzam dengan tulus dan serius: “AKU MENCINTAI AL-QUR’AN ku, aku ingin menjaganya, menjaganya, menjaganya…”

Begitulah. Aku bersyukur aku merasa sakit atas ‘tamparan’ peristiwa yang kualami, karena setidaknya, itu mengindikasikan hati kecil kita masih berfungsi baik untuk jujur mengenali mana yang perlu dikoreksi atas diri kita. Mana ‘sakit jiwa’ yang perlu tindakan penyembuhan segera.

I love Ramadhan, and I really need it.

Allahuakbar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s