Cerita tentang Halaqoh-ku

Standard

Allahuakbar! Selalu begini. Betapa Allah selalu Maha Tahu bagaimana harus memberi pelajaran pada hamba-Nya, termasuk aku. Maka, pengalaman halaqohku tiga minggu terakhir ini sangat tepat mengajarkanku bagaimana mendidik diri sendiri. Huff!

Jika beberapa waktu lalu aku menulis tentang keenam liqo yang pernah kujalani selama kuliah di UM, kali ini ceritanya sudah berbeda karena murobbiku sudah beda lagi. Jika hendak memberi sifat/ karakter pada liqo-ku kali ini, mungkin kata ‘menghunjam’ adalah tepat untuk mendeskripsikan betapa liqo-ku kali ini selalu saja mengena di hati dan akal yang akhirnya mengajak hati kecil ini untuk berkata “Harrraaa…mengakulah, Hanis, itu kamu…”.

Dalam 3 minggu terakhir ini, serasa selalu dipertemukan dengan suplemen ruhi yang tepat untukku (dan insya Allah juga untuk teman-teman liqo-ku). Dia, MRku tersayang yang sudah sangat kukenal bagaimana dia, yang aku menyebutnya bagaikan seorang Khalid bin Walid, yang mungkin hafalannya memang tak sebanyak mad’u-mad’u atau jundi-jundinya, tapi dia adalah seorang ‘panglima’ hebat yang jiddiyahnya (kesungguhannya) dalam berkontribusi untuk dakwah ini subhanallah perlu banyak ditiru. Saat ia berkata-kata, betapa rasanya ada sensasi menusuk-nusuk relung hati dan menampar-nampar nurani. Sungguh, seandainya saja ada cermin ajaib mungkin akan bisa tampak memerah-merah pipiku karena merasa tertampar penuturannya. Hikshikshiks…astaghfirullahal’adziim.

Lain lagi ceritanya tentang wajah-wajah berseri dalam lingkaranku. Mereka, teman-teman liqo-ku itu, subhanallah. Wajah-wajah yang selalu memberi inspirasi berbeda pada setiap pertemuan kami. Dan aku bersungguh-sungguh mengagumi mereka karena Allah. Karena Allah yang telah menganugerahkan berbagai kelebihan itu pada mereka. Ada teman yang subhanallah fashih tilawahnya, yang jago hafalannya, yang lihai siyasi, yang pintar ilmi, yang pandai bercerita shiroh, yang ghiroh (semangat) dakwahnya subhanallah, dll yang subhanallah menginspirasi pokoknya. Di pertemuan yang lalu, ada yang membawa oleh-oleh cerita mengesankan dari perjalanan tugas dakwahnya di suatu pulau. Sampai-sampai kami tertegun mendengarkannya yang bercerita sembari sampai menangis (dan saya juga ikut menangis). Masya Allah…masya Allah…bersyukurlah atas segala nikmat dan kemudahan fasilitas serta banyaknya pasukan di dakwah kampus kita, betapa di sana ‘mengerikan’ tantangan dakwahnya.

Jika bertafakkur lebih dalam, betapa aku merasa kecil cil cil cil…jika melihat betapa hebat saudara-saudaraku di jalan dakwah ini. Dan seringkali memang, Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang (mungkin tanpa mereka sengaja dan sadari) telah membantingku ke bumi saat aku tengah merasa hebat, karena seringkali kutemui mereka dalam kondisi lebih baik dariku. Dan saat itulah bersemi sebuah rasa bernama: malu! Malu sama Allah, malu sama Rosulullah, duh…umatmu ya Rosul, yang berujar ingin mengikutimu, nyatanya masih seperti aku ini. Sungguh, tidak pernah ada alasan untuk sombong!

Anyway, yang bisa kukatakan hanya dengan bahasa sederhana, bahwa aku sungguh bersyukur berada dalam lingkaran ini, barisan dakwah ini, Tarbiyah ini ^-^’. Alhamdulillah.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s