Serial KKN Hanis: The End of Beloved KKN

Standard
Rabu, 30 Juni 2010Bulan Juni berakhir, satu penanda bahwa KKN kami harus berakhir juga :'(
Sedih? Iya donk.
Sebelumnya, hari-hari kami kebanyakan gembira bersama, menghabiskan beberapa hari terakhir dengan kebersamaan yang lucu. Dan Rabu kemarin, sebelum akhirnya kami bubar bersama-sama, ada sesi menarik dan berkesan, yaitu saat kami kumpul bareng di kos dan saling berbagi kesan dan pesan satu sama lain, satu per satu tanpa ada yang terlewat. Dan jadilah momen itu jadi begitu lama. Insya Alllah aku tak kan lupa bagaimana kita saling mengingatkan dan menyatakan rasa sayang dalam bentuk yang berbeda dan beragam.

Ada sesi kejadian yang mengharukan. Waktu aku dan Iis pamitan pada ibuk sore harinya. Aku ingat seperti cerita The Way Home waktu aku nulis nomor HPku, Iis, dan Ita yang akan kuberikan pada ibuk. Teringat bahwa ibuk akhirnya harus sendiri lagi, kesepian lagi, seperti sebelum kami bersembilan datang ke rumahnya yang besar itu. Sendiri dan sepi lagi, tanpa anak-anaknya yang tidak tinggal bersamanya. Maunya sok tegar, jangan nangis jangan nangis! Eah, tapi liat Iis sesenggukan sambil pamit ke ibuk, jatuh juga air mataku. Masih terngiang kata-kata ibuk padaku…:'( Seandainya saya bisa, Buk…)
Yah, tidak ada lagi mungkin yang menemani ibuk nonton “Rama dan Ramona” sambil bercerita dan tertawa-tawa. Di rumah besar itu, mungkin sekarang hanya ada seorang ibu yang setiap detiknya pasti bertambah tua, tapi di sisinya tidak ada teman bercerita berbagi suka dan duka. Hanya di waktu-waktu tertentu ada orang-orang terdekatnya yang datang seperlunya ke sana. Buk, semoga Ibuk tetap bahagia, dijaga Allah agar baik-baik saja…

Lantas bubarlah kami, motoran bersama-sama, dengan (lagi-lagi) merepotkan anak cowok karena barang bawaan cewek ampun dah banyaknya (aku terutama, hehehe). Sambil menggendong tas ranselku yang besarnya kayak beruang, lalu membonceng Iis serta menenteng tas-tas lain, aku berujar dalam hati: Kalau sampai ada polisi mencegat, aku sudah niat akan berlalu sambil melambaikan tangan serta berseru “Maaf, Pak, repot!” Hahaha, tapi itu hanya imajinasiku, tidak ada polisi mencegat kok. Dengan bersusah payah, alhamdulillah, sampai dengan selamat.

Terimakasih, teman-teman…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s